Breaking News:

Peserta Konvoi Kelompok Khilafatul Muslimin Bakal Diperiksa Polisi

Polisi akan memeriksa semua anggota kelompok Khilafatul Muslimin yang mengikuti konvoi dan menyebarkan brosur serta ajakan mengikuti kelompok mereka

TribunBatam.id via Tribunnews.com
Pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja yang ditangkap polisi dan berstatus tersangka, Selasa (7/6/2022). (Youtube Khilafatul Muslimin) 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Saat ini, anggota kelompok Khilafatul Muslimin ternyata sudah tersebar di sejumlah daerah selain di Bandar Lampung dan Jakarta.

Penyebaran kelompok itu bertujuan untuk membentuk organisasi yang lebih besar lagi dengan tujuan untuk menggoyang Ideologi Pancasila.

Beberapa wilayah yang sudah mulai dimasuki kelompok Khilafatul Muslimin antara lain, wilayah Sumatera, Pulau Jawa dan daerah lain.

Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, aksi konvoi yang terjadi tidak hanya di Cawang, Jakarta Timur.

Tapi juga ada aksi serupa di mana kelompok ini mengendarai sepeda motor secara gerombolan di Cirebon, Jawa Barat dan Surabaya, Jawa Timur.

"Dalam konvoi itu menyebarkan brosur dan sebaran- sebarannya yang merupakan ajakan kepada masyarakat untuk mengikuti Khilafatul Muslimin atau menuding khilafah," katanya, Kamis (9/6/2022).

Jenderal bintang satu ini tak menyebutkan siapa saja akan dipanggil yang terlibat dalam aksi konvoi tersebut.

Baca juga: Kronologi Lengkap Eril Putra Ridwan Kamil Ditemukan di Bendungan Engehalde Swiss

Baca juga: Pemko Batam Defisit Rp 300 Miliar, Walikota Minta OPD Bekerja Keras Gali Potensi PAD

Sebab, pihaknya masih terus mendalami aksi kelompok yang bertentangan dengan Ideologi Pancasila.

"Tentu nanti akan diproses," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menciduk pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qodir Hasan Baraja di Lampung, Selasa (7/6/2022) pagi.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengatakan, organisasi tersebut dinilai telah menganut dan mengembangkan serta menyebarkan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila.

"Serta penyebaran berita bohong sehingga dapat menimbulkan keonaran atau kegaduhan di masyarakat, baik masyarakat secara umum dan juga dikalangan umat muslim itu sendiri," ujarnya.

Menurutnya, Abdul Qodir ini mantan narapidana kasus terorisme yang pernah dipenjara dua kali yakni tiga tahun dan kemudian 13 tahun.

Saat ditangkap, Abdul menyatakan kepada polisi tidak bertentangan dengan Pancasila, tapi pihaknya sudah melakukan serangkaian penyelidikan dan meminta keterangan saksi ahli dari agama islam, literasi islam dan ahli ideologi islam.

Hasilnya, organisasi ini bertentangan dengan Pancasila dan pihaknya sudah mengantongi bukti dari website dan akun youtube dari kelompok tersebut sebelum melakukan penindakan.

"Sebagai contoh mereka memiliki website kemudian di dalamnya ada youtube ada video ceramah mereka, kemudian ada buletin yang setiap bulan diterbitkan ada penerbitnya di Sukabumi," tegasnya. (*)

 

*Sumber : WartaKotalive.com 

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved