Breaking News:

KARIMUN TERKINI

Petani Cabai di Karimun Ikut Sedih Harga Cabai Melonjak Tinggi Terdampak Harga Pupuk Naik

Khairul Muhtadi, petani cabai di Karimun mengaku senang sekaligus sedih dengan harga cabai yang naik drastis terdampak harga pupuk mahal. Ini sebabnya

Penulis: Yeni Hartati | Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Yeni Hartati
Khairul Muhtadi, petani cabai di Tanjungbatu, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.. 
KARIMUN, TRIBUNBATAM.id - Petani cabai sentra yang berada di Tanjungbatu, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengungkap penyebab harga cabai di pasaran melambung tinggi.

Hal ini disampaikan Khairul Muhtadi (39), petani di Karimun yang telah menggeluti profesi petani cabai sejak 2008 silam.

Ia menyebut kenaikan harga cabai yang kini tembus Rp 110 ribu per kg di antaranya karena harga pupuk yang ikut naik drastis.
Sebelumnya harga pupuk hanya Rp 480 ribu per 50 kilogram, kini sudah melonjak tinggi di atas harga itu.
"Sekarang harganya sudah Rp 1.050.000, inilah yang buat cabai jadi mahal," ujar Khairul, Jumat (24/6/2022).
Sebagai petani cabai, ia tak memungkiri kenaikan harga cabai ini berimbas pada keuntungan yang didapatnya.
Ada perasaan senang sekaligus bercampur sedih saat harga cabai naik. 
"Saya akui sebagai petani cabai ada senangnya dengan harga cabai yang tinggi, tapi sedih melihat ibu-ibu yang mengeluh. Dulu dalam seperempat kilo cabai hanya Rp 6 ribu, tapi sekarang gak dapat lagi di harga segitu," ujarnya.
Ditambah dengan biaya produksi atau modal yang besar untuk sekali panen, ia bahkan menyebut petani lainnya memilih berhenti menjadi petani cabai.
"Tingginya harga pupuk, ada beberapa petani di sini memilih berhenti," ujarnya.

Ia berharap secepatnya pemerintah dapat menurunkan harga pupuk agar petani yang berhenti bisa kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kami minta harga pupuk bisa kembali seperti semula. Jadi banyak petani yang memulai melakukan penanaman cabai kembali," ujarnya.

Bagi trik tanam cabai

Petani yang memiliki lahan kurang lebih enam hektare ini, juga memberikan trik menanam cabai merah.
"Cabai merah ini istimewa. Cara menanamnya tidak bisa digabung dengan cabai rawit ataupun cabai hijau. Ini yang membuat cabai merah akan mati jika ditanam tidak tepat sasaran," ujarnya.
Dalam budidaya cabai juga tidak bisa secara serentak.
Ia menyebut luas lahan enam hektare itu membutuhkan waktu enam bulan untuk enam lahan.
Sementara itu, faktor cuaca juga mempengaruhi kualitas panen cabai merah.
"Kalau cuaca panas, tanaman cabai terdapat banyak hama. Ini yang menjadi kendala kami sebagai petani cabai," ujarnya. 

(TRIBUNBATAM.id/Yeni Hartati)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Karimun

Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved