Breaking News:

ATURAN BARU

Pertamina Naikan Harga BBM, Pengamat Sebut Peralihan ke Non Subsidi Akan Sulit

Hara BBM jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex resmi dinaikan oleh Pertamina. Hal ini justru menjadi perbincangan dikalangan pengamat

Editor: Eko Setiawan
TribunBatam.id/istimewa untuk Tribun Batam
Salah satu SPBU milik Pertamina. Pertamina menaikan harga sejumlah BBM di Indonesia 

TRIBUNBATAM.id, BANDUNG - Sejumlah harga BBM di Indonesia dinaikan oleh Pertamina.

Sejumlah BBM yang naik harga tersebut diantaranya jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Pakar Ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, mengatakan kebijakan ini sangat mengganggu upaya pemerintah dan  Pertamina sendiri yang ingin membuat masyarakat bermigrasi ke konsumsi BBM nonsubsidi.

"Apa yang dilakukan oleh pemerintah dan apa skenarionya ya? Saya kira ini skenario jurus mabuk, ya. Jadi tembak sana tembak sini, ya, pakai main-main Pertamina kebijakannya kayak begitu, dicobanya enggak terstruktur," kata Acu saat dihubungi, Minggu (10/7/2022).

Padahal sebelumnya, katanya  Pertamina baru saja menyaratkan penggunaan aplikasi My Pertamina untuk membeli BBM bersubsidi demi migrasi ke BBM nonsubsidi tersebut.

"Jadi kalaupun ada pembatasan yang di 11 kota itu yang terkait dengan penggunaan My Pertamina untuk BBM bersubsidi, kemudian sekarang ada kelompok masyarakat yang menganggap harga BBM nonsubsidinya jadi lebih tinggi, kebijakan ini jadi tidak efektif," katanya.

Apalagi menurut kajian  Pertamina, katanya, bahwa 60 persen masyarakat mampu mengonsumsi 80 persen BBM bersubsidi.

Artinya negara ingin meminta kepada masyarakat yang mampu untuk jangan membeli BBM bersubsidi. Tapi karena harganya semakin tinggi, kebijakan terdahulu menjadi tidak efektif.

Seperti diketahui, Pertamax Turbo awalnya berharga Rp 14.500 per liter. Namun kini naik menjadi Rp 16.200 per liter.

Kemudian, Pertamina Dex awalnya Rp 13.700 per liter, naik menjadi Rp 16.500 per liter, dan harga Dexlite naik sebesar Rp 15.000 per liter yang sebelumnya hanya Rp 12.950 per liter.

"Pemerintah menaikkan harga itu karena memang harga minyak dunia terus naik ya. Jadi paling tidak, bisa menambal. Nah tetapi kan menambal ini kemudian menyebabkan risiko fiskal, yaitu kenaikan beban subsidi. Jadi saya nilai  Pertamina itu tidak serius sebenarnya. Kenapa, karena dia harus mengkombinasikan kebijakan antara kebijakan BBM berdasarkan harga pasar dan juga kebijakan BBM bersubsidi," katanya.

Pertamina, katanya, harus mencari keseimbangan dalam setiap kebijakan.

Keseimbangan yang diharapkan adalah tidak terlalu jauhnya gap harga antara BBM bersubsidi dengan nonsubsidi. Seperti diketahui, sekarang jaraknya sudah hampir 100 persen dengan yang bersubsidi.

"Pada saat BBM bersubsidi itu enggak terlalu jauh jarak harganya, contoh kemarin itu pertalite itu Rp 7.650 kemudian kita pernah waktu dulu kan Pertamax itu Rp 9 ribuan, itu agak bagus. Masyarakat juga paham mereka manfaat mengonsumsi BBM yang lebih bagus," katanya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved