WISATA LINGGA
KISAH Rakyat Soal Meriam Tegak, Cagar Budaya di Pantai Batu Berdaun Lingga
Cagar budaya Meriam Tegak di area pantai Batu Berdaun ternyata memiliki kisah dengan beberapa versi sebagai cerita rakyat. Bagaimana kisahnya?
Penulis: Febriyuanda |
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Tidak hanya bisa menikmati pesisir pantai, wisata di Desa Batu Berdaun juga terdapat cagar budaya yang sering dilirik para wisatawan.
Cagar budaya ini bernama Meriam Tegak, yang berada di samping jalan menuju pantai.
Meriam Tegak merupakan salah satu cagar budaya daerah Kabupaten Lingga, yang ramai dikunjungi orang karena keunikannya.
Sesuai namanya, meriam ini berposisi tegak atau berdiri, dengan separuh bagian meriam tertancap di tanah dan separuh moncong meriam menghadap ke arah langit.
Meriam Tegak terlihat jelas dilihat oleh pengendara saat melewati akses utama jalan ke pantai wisata ini.
Peninggalan sejarah yang kini menjadi cagar budaya ini berasal dari cerita rakyat, yang memiliki nilai sejarah yang melekat bagi warga setempat.
Meski memiliki cerita dan misteri yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia, namun sebagian masyarakat lokal hampir mempercayai cerita di balik tertancapnya meriam tegak ini.
Cerita ini memiliki berbagai versi yang beredar di kalangan warga setempat.
Baca juga: Memanah hingga Main Kano, Ini Deretan Aktivitas Menarik di Pantai Batu Berdaun Lingga
Menurut Pemerhati Sejarah dan Budaya Lingga, Lazuardy mengungkapkan bahwa kisah ini berawal dari pertikaian atau kesalahpahaman antara suami dan istri.
Sejak zaman dahulu hingga saat ini, meriam tersebut tidak pernah bisa dicabut oleh manusia.
Bahkan, pemerintah daerah telah mengerahkan alat berat untuk mencabut meriam ini, tapi tetap saja tidak dapat membantu mengangkatnya dari tanah.
"Cerita itu berawal dari kesalahpahaman antara si istri cik Walek dan suami cik Nuh," kata Lazuardy kepada TRIBUNBATAM.id, Rabu (3/8/2022).
Lazuardy menjelaskan, bahwa hal itu berawal dari cik Walek yang memakan sebuah cendawan atau jamur yang memiliki khasiat ajaib.
Sehingga, saat memakannya cik Walek memiliki tenaga super yang tidak menyamai kekuatan manusia pada umumnya.
halaman Cik Walek dan sang suami Cik Nuh memang dipenuhi dipenuhi dengan meriam.