CUACA EKSTREM NATUNA
Cuaca Ekstrem Natuna Ganggu Periuk Nasi Nelayan Sejak Akhir Agustus 2022
Cuaca ekstrem di Natuna berdampak pada pendapatan nelayan hingga membuat harga ikan di pasar tradisional melonjak.
NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Cuaca ekstrem di Natuna dirasakan nelayan tradisional di sana.
Sejak akhir Agustus 2022 lalu, nelayan tradisional di sana merasakan dampak cuaca ekstrem di Natuna.
Cuaca ekstrem di Natuna berupa gelombang laut setinggi empat meter membuat mereka sukar untuk melaut.
Kondisi ini tak hanya mengancam dapur nelayan yang tidak 'ngebul'.
Tapi juga hasil tangkapan ikan yang biasa mereka jual di pasar.
Baca juga: Pemko Batam Sepakat RSUD Embung Fatimah jadi Rujukan Berobat Warga Natuna
Harga ikan pun melambung, setidaknya di Pasar Tradisional Ranai.
Bukan kali pertama cuaca ekstrem di Natuna dirasakan warga.
Fenomena ini kerap terjadi menjelang akhir tahun.
Mirip-mirip dengan yang terjadi di Anambas.
Nelayan pun beraktivitas lain jika cuaca ekstrem mulai masuk, demi dapur tetap berasap.
Mulai dari memperbaiki pompong, peralatan tangkap mereka hingga alih profesi di kebun bagi mereka yang punya.
Ketua Aliansi Nelayan Natuna (ANNA), Henri mengatakan bahwa, kondisi gelombang di Laut Natuna Utara terbilang ekstrem dan sudah berlangsung kurang lebih dua bulan.
Baca juga: Bupati Natuna Buka Jurus Pemkab Tekan Angka Kemiskinan di Kepemimpinannya
"Saat ini gelombang di Laut Natuna Utara itu cukup tinggi, kemarin bahkan mencapai empat meter. Nelayan jadi tak bisa kerja," kata Henri kepada TribunBatam.id, Kamis (27/10/2022).
Menurutnya, saat ini merupakan transisi atau peralihan musim Barat ke musim Utara. Sehingga gelombang tinggi.
"Kalau gelombang tinggi, nelayan tak bisa kerja. Soalnya mereka baru sampai di lokasi tiba-tiba cuaca buruk jadi mereka tak bisa mancing," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/evakuasi-bagan-nelayan-kecamatan-pulau-tiga-natuna.jpg)