LINGGA TERKINI
Ramadan di Lingga, Mengenal Tradisi Likuran di Tanah Melayu
Tradisi Likuran selalu dinanti warga saat Ramadan di Lingga. Seperti apa tradisi itu? Berikut laporannya.
Penulis: Febriyuanda | Editor: Septyan Mulia Rohman
Bagi warga, malam Tujuh Likur ini selalu dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar.
"Malam Tujuh Liko yang terdapat pada malam 27 Ramadan ini selalu dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar yang terdapat pada malam ganjil, di mana malam itu lebih baik dari seribu bulan.
Makanya dari awal malam 21 Ramadhan masyarakat Lingga sudah memasangkan lampu penerangan," kata Lazuardy kepada TribunBatam.id, Kamis (6/4/2023).
Lazuardi menjelaskan, bahwa peringatan malam tujuh likur ini juga mengingatkan, bahwa sebelumnya umat Islam berada pada zaman kegelapan atau malam kebodohan hingga sampai kepada zaman yang terang benderang yang penuh dengan kemajuan.
"Tujuh Likur ini juga yang dimulai pada tahun 80-an, mereka mempererat silaturahim, berkunjung, berbagi rezeki, hingga merayakan berbuka bersama," ucapnya.
Dulu pada masa 70-an, dia menceritakan, masyarakat Melayu Lingga memanfaatkan bahah-bahan bekas atau seadanya untuk membuat pintu gerbang.
Namun sekarang, sudah ada pakai triplek, terpal, maupun lampu penerangan dari listrik yang biasanya hanya dibuat dengan lampu minyak tanah atau pelita.
"Semoga sampai kapanpun tradisi yang ada ini tetap lestari oleh generasi ke generasi," tambahnya.(TribunBatam.id/Febriyuanda)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Ramadan-di-Lingga-dan-Tradisi-Likuran-di-Tanah-Melayu.jpg)