KEBAKARAN DI PULAU BULUH
Jejak Sejarah Pulau Buluh Batam, Pusat Niaga dan Pemerintahan pada Masanya
Kebakaran di Pulau Buluh Batam memantik jejak sejarah di sana. Berikut peninggalan sejarah yang ada di sana.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Musibah kebakaran di Pulau Buluh Batam pada Rabu (19/7/2023) menjadi duka buat semua.
Tidak hanya menghanguskan permukiman penduduk, kebakaran di Pulau Buluh Batam dilaporkan juga memakan korban jiwa.
Mungkin tak banyak yang tahu jika Pulau Buluh yang masuk Kecamatan Bulang ternyata sangat bersejarah bagi Kota Batam, Provinsi Kepri.
Sebab semua bermula dari sini. Selain Nongsa, Pulau Buluh merupakan pusat pemerintahan pada masanya.
Pada tahun 1895 Pulau Buluh adalah bagian dari ke amiran.
Baca juga: Wakil Wali Kota Batam Sampaikan Duka Pemko atas Musibah Kebakaran Pulau Buluh
Amir dalam bahasa Arab berarti pemimpin pada Kerajaan Riau Lingga.
Amir pertama di Pulau Buluh bernama Tengku Umar bin Tengku Mahmud.
Sedangkan di Nongsa, yang menjadi amir pertama adalah anaknya keturunan dari Raja Isa yakni Raja Mahmud bin Raja Yakup bin Raja Isa atau Nong Isa.
Untuk menelusuri jejak peninggalan Amir Pulau Buluh, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Ardiwinata menelusuri atau berheritage walk ke Pulau Buluh.
Ardiwinata menuturkan Pulau Buluh ini dulunya menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdagangan.
Di sini rombongan melihat Pasar Pulau Buluh.
Baca juga: PULAU Buluh tak Punya Pompa Air, Jadi Kendala saat Atasi Kebakaran
Ardi menjelaskan arsitektur bangunan di kiri dan kanan pasar sama dengan yang ada di Malaka dan Penang.
Dulunya pasar ini dikembangkan oleh tauke Tionghoa bernama Tan Iu Tse.
Ia adalah seorang Taulo (dulu kepala administrasi pemerintahan orang Tionghoa, seperti Camat).
Taulo tidak hanya mengurusi pemerintahan orang Tioghoa saja, tetapi juga mengurusi masalah ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Jejak-sejarag-di-Pulau-Buluh-Batam.jpg)