Senin, 13 April 2026

MATA LOKAL CORNER

Klaim Pemerintah Soal Kasus Asusila di Batam, Gelora Serukan Pentingnya Agama

Kasus asusila di Batam rupanya menjadi perhatian pemerintah daerah. Begini klaim mereka dalam upaya menekannya.

TribunBatam.id/Roma Uly Sianturi
Kepala Seksi Pencegahan dan Penanganan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan Dinas P3AP2KB, Dedy Suryadi di acara MLC Tribun Batam, Kamis (10/8/2023). Ia mengungkap upaya yang dilakukan pemerintah agar kasus asusila di Batam tak lagi terulang. 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Pemerintah daerah mengklaim sudah berupaya dalam menekan kasus asusila di Batam.

Kepala Seksi Pencegahan dan Penanganan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan Dinas P3AP2KB, Dedy Suryadi mengaku sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan perhatian dan edukasi kepada masyarakat untuk menekan kasus asusila di Batam.

Kemudian Dinas P3AP2KB, juga sudah melakukan sosialisai kepada anak-anak sekolah dan juga melakukan penanganan kepada UPTD PPA.

"Namun kasus tetap ada dan bermunculan. Kami sempat berpikir apalagi yang harus kami lakukan," kata Dedy saat acara Mata Local Corner (MLC) Tribun Batam, Kamis (10/8/2023).

Pihaknya sudah mempelajari tentang predator atau pelaku.

Mengapa seseorang bisa menjadi predator, hal ini berpengaruh kepada psikologi seseorang.

Pihaknya menilai, siapa yang buruk dari masa lalu, dia muncul lagi dimasa sekarang dan membuat orang lain menjadi korban.

Tak hanya itu, faktor adanya prdator ini juga muncul dari pengaruh lingkungan.

Tumbuh kembang anak itu, bisa menciptakan peluang.

"Kami tak bisa juga tutup mata, gadget banyak manfaatnya. Apalagi sistem daring. Orangtua, guru, pemerhati, pemerintahlah harus memiliki langkah. Karena gadget ini seperti bermata dua. Satu sisi bermanfaat, satu sisi bisa jadi peluang orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan mengambil kesempatan," papanya.

Baca juga: Kasus Asusila di Batam Meningkat, Bacaleg DPRD Serukan Pembatasan Gadget

Ironisnya lagi, lanjut dia, ada kasus asusila dimana pelakunya merupakan ayah kandungnya sendiri.

Ia mengibaratkan seperti harimau memakan anaknya sendiri.

"Nah itu gadget tadi. Kadang orang yang bermain game online, muncul iklan-iklan yang tak senonoh. Bahkan kita bermain media sosial, lalu ada iklan promo misalnya kita buka, ada juga adegan yang tak senonoh. Saya khawatirnya apa si bapak ini melihat berulang-ulang dan terobsesi sementara si ibu sedang bekerja. Kadang dalam hati miri, kenapa harus sama anaknya," paparnya

Ia menambahkan ada juga predator sesama anak sekolah. Pihaknya bisa membantu agar predator tidak mengulangi hal yang sama atau disembuhkan.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved