Detik-detik Kapal Nelayan Asal Karimun Karam hingga Hanyut ke Perairan Malaysia
Jimmi, nelayan Karimun ungkap detik-detik kapal yang ia tumpangi karam di laut akibat dihantam ombak hingga hanyut sampai Malaysia
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Dewi Haryati
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Jimmi Gomgom Parsaoran Pasaribu (38), satu dari lima nelayan Karimun korban kapal karam hingga hanyut ke perairan Malaysia, ungkap detik-detik kapal yang mereka tumpangi karam.
Insiden kapal karam ini terjadi pada Sabtu (7/10/2023) dini hari. Saat itu kapal yang mereka tumpangi dihantam ombak, lalu bocor dan karam di perairan Tanjung Balai Karimun.
Jeriken kosong bekas minyak, menjadi penyelamat kelima nelayan itu. Selain Jimmi, ada temannya Tengku Febri Fahendra (21), Arfiliandi (34), Warnata (40) serta Mardian Sumarwan (44).
Jimmi mengaku jika tak ada jeriken kecil itu, mungkin nyawanya bersama empat rekannya akan ikut tenggelam bersama kapal.
“Malam saat kejadian itu, tak tahu lagi menggambarkan suasananya. Semua sudah berpasrah. Apalagi saat detik-detik kapal kami karam,” ujar Jimmi di atas kapal KN SAT Purworejo 101, Senin (30/10/2023) sore.
Kepada Tribun Batam, lima nelayan asal Karimun ini menceritakan peristiwa kelam yang mereka alami.
Sebelum itu, mereka mengaku lega dan tenang karena telah berada di atas kapal Basarnas, dan akan kembali pulang ke Indonesia menuju perairan Tj Balai Karimun.
Baca juga: Basarnas Jemput Nelayan Karimun yang Hanyut Sampai Malaysia, Insiden Kapal Karam
Lima kawanan ini mengaku merasakan hal yang sama, mulai dari awal rencana mancing, kapal dihempas ombak hingga karam dan terombang-ambing, terbawa arus hingga ke Malaysia.
Layaknya berdiskusi, masing-masing mereka saling menimpali cerita untuk mengungkapkan kisahnya kepada Tribun.
Jimmi mengaku masih trauma atas kejadian yang dialaminya pada Jumat malam itu sesaat memancing bersama rekannya.
Kapal yang mereka tumpangi bersama empat temannya bocor dihantam gelombang laut hingga karam.
“Masih terbayang-bayang kejadian itu. Tak akan terlupakan seumur hidup, saya bisa selamat dari kematian,” ujar Jimmi penuh rasa syukur.
Jimmi masih mengingat betul kejadian malam itu. Apalagi saat ia bertahan hidup di tengah laut bermodalkan jeriken.
Saat itu ia bersama empat temannya sepakat mau pergi mancing pada Jumat (6/10/2023) malam. Mereka memakai kapal pancung fiber. Kapal itu kecil dengan mesin 15 PK.
"Kami berangkat sekira pukul 22:00 WIB," katanya.
Baca juga: Sempat Dinyatakan Hilang, Dua Nelayan Ditemukan Terombang Ambing di Laut Lepas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/31102023nelayan-karimun.jpg)