Selasa, 21 April 2026

RAMADAN

Apa Itu Hilal yang Sering Jadi Penentu Awal Puasa Ramadan?

Apa itu hilal yang dipantau untuk penetapan awal Ramadan? Hilal merupakan bulan sabit sampai bulan itu bisa menerangi alam langit secara total

Editor: Dewi Haryati
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
HILAL - Foto Anggota tim Rukyatul Hilal memantau hilal penetapan jadwal puasa 2018 di Masjid Al Musari'in, Basmol, Jakarta, Selasa (15/5/2018). 

TRIBUNBATAM.id - Ramadan 2024 sebentar lagi akan datang.

Awal Ramadan tahun ini diperkirakan akan berlangsung pada Maret 2024.

Dari Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan 1445 Hijriah jatuh pada 11 Maret 2024 berdasarkan kalender 2024 yang telah dirilis sebelumnya.

Sedangkan dari pemerintah, berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2024 yang dikeluarkan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag), awal Ramadan tahun ini jatuh pada 12 Maret 2024.

Baca juga: Populer saat Ramadan, Inilah Manfaat Kurma bagi Kesehatan Selain Buat Cepat Kenyang

Namun untuk pengumuman resminya dari pemerintah, masih menunggu dilakukan sidang isbat.

Sementara dari Nahdlatul Ulama (NU) hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait kapan awal Ramadan 1445 Hijriah atau 2024 Masehi.

Nah, setiap kali jelang Ramadan ada pertanyaan yang kerap muncul apakah hilal sudah bisa dilihat dan lain sebagainya.

Ya, hilal ini sering jadi penentu awal puasa Ramadan apakah sudah masuk atau belum.

Tak hanya jelang awal Ramadan, jelang Syawal dan Dzulhijjah pun begitu.

Pertanyaannya, apa itu hilal?

Dikutip Tribunnews.com dari jurnal Memahami Makna Hilal Menurut Tasir Al-Qur'an dan Sains oleh Qomarus Zaman, hilal muncul sebagai penentu perbedaan waktu dan ketetapan alat waktu guna menentukan kapan terjadinya waktu beribadah kepada Allah.

Menurut Imam Syaukani, hilal memiliki makna yaitu sebuah nama bulan yang muncul di setiap awal bulan dan akhir bulan.

Sedangkan menurut Imam Ashmu’i, hilal merupakan bulan sabit yang berbentuk mulai tipis sampai menjadi bulan yang sempurna alias purnama.

Ada juga yang menyebut, hilal ini mulai dari bulan sabit sampai bulan tersebut bisa menerangi alam langit dengan cahayanya sendiri secara total.

Dalam sebuah periwayatan diceritakan, bahwasanya Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghanimah, keduanya berkata kepada Rasulullah:

“Ya Rasulullah, kami mengiyakan bahwasanya hilal itu sesungguhnya dimulai dari bulan yang sangat tipis sekali seperti benang dan muncul hanya beberapa menit saja."

"Kemudian dia akan sedikit demi sedikit membesar memenuhi sampai menjadi sama besarnya dengan bagian yang lainnya dan menjadi bulat keseluruhannya (Bulan purnama), kemudian akan kembali lagi seperti sediakala mengecil dan tipis seperti benang. Pergerakan pergantian bulan tidak akan terjadi hanya dengan satu kali keadaan.”

Baca juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1445 Hijriah pada 11 Maret 2024, Tanggapan PBNU?

Dari banyak makna hilal menurut para mufasir dan fuqaha, hilal adalah penampakan bulan muda (bulan sabit) setelah terjadi ijtimak yang terlihat pada awal bulan pada malam kesatu kedua dan ketiga yang diteriakkan oleh orang yang melihatnya atau diberitahukan kepada orang yang tidak melihatnya sebagai pertanda awal bulan dimulai dalam sistem kalender.

Sementara itu, hilal menurut sains adalah tanda petunjuk atau penanda waktu dan merupakan satu kesatuan sistem waktu yang terdiri dari hari, bulan dan tahun.

Sistem seperti ini menjadi bentuk kalender (almanak, taqwim) yang dipergunakan secara mudah untuk kepentingan umat manusia dalam pelaksanaan ibadah puasa, haji, waktu shalat, penentuan masa iddah dan perjanjian mualamah lainnya.

Foto Pengurus Nahdatul Ulama saat memantau hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013), untuk memutuskan awal Ramadhan 1434 H.
Foto Pengurus Nahdatul Ulama saat memantau hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013), untuk memutuskan awal Ramadhan 1434 H. (TRIBUNNEWS / DANY PERMANA)


Dalam pandangan astronomi modern seperti Danjon, hilal baru akan terlihat jika posisi bulan dalam jarak minimal 8 derajat disamping matahari (The moon’s crescent cauld rot be seen closer to the sun for elongation less that).

Pendapat ini pernah dikukuhkan oleh Muammer Dizer dalam Konferensi Islam Internasional di Istambul Turki tahun 1978.

Menurut penelitiannya yang telah diterima oleh para ahli astronomi internasional, bulan terlihat dengan posisinya dari jarak matahari (sudut azimutnya) 8 derajat dan posisi ketinggian diatas ufuk 5 derajat.

Dia menyatakan, sangat mustahil jika ada sebagian pendapat yang menyatakan posisi ketinggian bulan di bawah 5 derajat diatas ufuk bisa terlihat dengan mata.

Sedangkan MABIMS termasuk Indonesia, membuat kriteria imkan al-rukyat, menyatakan bahwa ukuran posisi hilal dapat terlihat pada ketinggian 20 derajat.

Jarak elongasi sudut azimutnya 3 derajat dan jarak saat ijtimak dan waktu terbenam matahari 8 jam.

Kriteria MABIMS ini lebih rendah dari pada kriteria Istambul.

Kriteria yang terakhir ini digunakan Malaysia, Singapura dan Brunei, sedangkan lndonesia masih belum ada perbedaan dan belum ada kesepakatan tentang kriteria tersebut.

Secara astronomi, penampakan hilal baru akan kelihatan setelah satu hari atau dua hari dari garis mu’ayanah.

Dalam penentuan hilal awal bulan, banyak terjadi perbedaan pandangan dan pendapat.

Menurut pandangan penulis bahwa perpaduan metode perhitungan secara hisab-matematik-astronomi dan ru’yat al-hilal tetap harus dilakukan untuk menguji ke sahihan, kepastian dan menambah keyakinan bahwa antara metode hisab dan ru’yat tidak saling bertentangan, satu sama lain saling melengkapi, karena hisab yang akurat sepanjang dilakukan dengan kehati-hatian.

Pentingnya Melihat Hilal

Puasa Ramadan merupakan ibadah yang dibatasi dengan waktu, pelaksanaannya di bulan Ramadan.

Dalam penetapan awal bulan ini, para ulama saling beda pandangan.

Pendapat dari Rasyid Ridha mengatakan, bahwasanya dalam penentuan sebuah waktu, maka seorang yang alim (Ulama’) lebih mudahnya secara hisab.

Dikutip dari Kompas.com, astronom amatir, Marufin Sudibyo menyebutkan bahwa hilal dinyatakan secara tekstual dalam sabda Nabi SAW:

“Berpuasalah (dan berhari raya) karena melihat hilal. Jika tidak terlihat maka genapkanlah.”

Dengan landasan itu, maka rukyatul hilal (observasi hilal) dipahami sebagai ibadah.

Selain menentukan awal bulan kalender Hijriyyah, hilal juga menentukan awal dua hari raya.

“Meski di sini ada sedikit perbedaan. Lembaga seperti Nahdatul Ulama berpedoman seluruh awal bulan kalender Hijriyyah harus ditentukan oleh terlihat atau tidaknya hilal, maka rukyatul hilal (observasi hilal) digelar setiap awal bulan,” papar Marufin.

Sementara itu, lembaga yang lain berpedoman rukyatul hilal cukup dilakukan hanya pada awal Ramadhan dan dua hari raya.

Baca juga: Apa Hukumnya Berkumur dan Sikat Gigi saat Puasa Ramadan di Siang Hari? Ini Kata Ustaz

Sementara di bulan-bulan kalender Hijriyyah lainnya, ditetapkan berdasarkan hisab (perhitungan numerik-astronomik) yang bersandar pada sebuah kriteria yang memuat parameter-parameter minimal posisi Bulan.

“Sementara lembaga seperti Muhammadiyah berpedoman, seluruh awal bulan kalender Hijriyyah ditetapkan dengan cara hisab berdasarkan kriteria tertentu saja,” tambahnya.

(Tribunnews.com/Yurika)(Kompas.com/Sri Anindiati Nursastri)

 

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Apa Itu Hilal? Simak Pengertian dan Alasan Mengapa Perlu Melihat Hilal

Baca berita Tribun Batam lainnya di Google News

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved