RAMADAN
Ramadan di Australia, WNI Bagikan Pengalaman Puasa Perdana: Perlu Adaptasi Waktu
Inilah pengalaman Nadhira Aisyah Arrin, WNI saat jalani puasa Ramadan di Australia pada 2022 lalu. Ia merasakan kemudahan cari makanan halal di sana
TRIBUNBATAM.id - Simak pengalaman Warga Negara Indonesia (WNI) menjalani puasa perdana Ramadan di Australia.
Pengalaman berpuasa di negeri asing bisa dijadikan pengetahuan bagi warga Indonesia lainnya, apalagi Ramadan 2024 semakin dekat.
Diketahui, lama waktu berpuasa di setiap negara berbeda-beda tergantung porsi matahari yang didapat.
Ada umat Islam yang menjalankan ibadah puasa Ramadan selama 20 jam sehari, ada juga di bawah itu.
Baca juga: Rekomendasi 5 Radio Online Batam untuk Mengetahui Waktu Buka Puasa saat Ramadan
Di Indonesia, durasi waktu berpuasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari rata-rata 13 jam-an. Bagaimana di Australia?
Hampir sama dengan Indonesia, muslim di Australia menjalankan ibadah puasa dengan durasi rata-rata 13 jam-an.
Tentunya bagi yang menjalankan ibadah puasa Ramadan di negara asing butuh adaptasi. Apalagi bagi yang baru pertama kali.
Cerita inilah yang dibagikan Nadhira Aisyah Arrin, akrab disapa Arrin, saat menjalani puasa Ramadan di Australia, tepatnya di Melbourne, ibu kota negara bagian Victoria pada 2022 lalu.
Saat itu Arrin baru mulai menempuh pendidikan S2-nya di jurusan Media Communication, The University of Melbourne.
Ia mengakui sempat alami kesulitan kecil saat puasa di negeri Kangguru karena waktunya yang sering berubah.
"Di sini ada namanya Daylight Saving Time (DST). Jadi waktunya bertambah karena winter (musim dingin), siangnya lebih pendek. Misalnya pas bulan Maret, waktu Isya bisa jam 10 malam, padahal kalau tidak DST, waktu Isya jam 8," kata Arrin dikutip dari Kompas.com, Kamis (8/2/2024).
Akibat pergeseran waktu saat Daylight Saving Time yang tidak menentu, Arrin pernah salah waktu untuk makan sahur.
Ia memberi contoh tanggal 2 April 2022 saat ia mulai berpuasa, DST masih berlaku, sehingga azan subuh pukul 6 pagi dan maghrib pukul 7 malam.
Namun, DST berakhir pada tanggal 3 April 2022. Artinya waktu sahur dan berbuka hampir sama dengan di Indonesia, yaitu subuh pukul 5 pagi dan maghrib pukul 6 petang.
"Di tanggal 3 itu, aku sempat salah waktu. Jadi harusnya selesai sahur jam 5 pagi, aku kira masih sampai jam 6. Jadi aku udah selesai makan jam setengah 6, eh baru sadar," ujarnya sembari tertawa kecil.
Baca juga: Keutamaan Muhasabah Diri di Bulan Ramadan
Tak mau salah waktu lagi, Arrin pun menggunakan bantuan aplikasi, seperti Muslim Pro, untuk mengetahui jadwal masing-masing waktu sahur, berbuka, dan waktu shalat lainnya.
"Biasanya dari Muslim Centre mereka nyebarin selebaran jadwal Imsak. Jadi selain aplikasi, aku pakai itu juga. Jadi mencocokkan yang waktunya lebih dekat sama kertas tadi," jelas Arrin.
Rasakan Kemudahan Berpuasa di Australia
Di sisi lain, Arrin menemukan cukup banyak kemudahan dan kebersamaan selama Ramadan di Australia.
Arrin bercerita, cukup banyak masjid atau lembaga muslim di Melbourne yang menyediakan hidangan buka bersama layaknya di Indonesia.
"Jadi habis iftar, sering bungkusin makanan atau dari masjid udah disiapin paketnya. Satu kotak bisa buat beberapa kali makan. Kalau bukber paling weekend," tuturnya.
Pun dalam mencari makanan halal untuk buka puasa dan sahur.
Ia menyebut, cukup banyak tempat yang menyediakan makanan halal di Melbourne, walaupun tak semurah di Indonesia.
"Cukup muslim friendly. Dari segi makanan lebih gampang ditemuin. Lebih aman, yang halal banyak, hewan-hewan enggak dimasukin sembarangan," katanya.
Menurutnya, Pemerintah Australia cukup banyak menyediakan restoran halal dan ramah Muslim.
Baca juga: Lima Etika Bermedia Sosial dalam Islam, Persiapan Sambut Ramadan 2024
"Kalau restoran (halal) di negara lain identiknya sama Turki atau India. Sedangkan di sini lebih banyak variasi restoran halal dari Korea, Thailand, dan lainnya," ujar Arrin.
Ya, sebelum Ramadan Arrin juga sudah melakukan antisipasi dengan menyiapkan stok bahan-bahan makanan.
Ia tinggal di apartemen bersama beberapa temannya. Terkadang mereka melakukan buka puasa bersama.
Jika masak bersama, biaya yang dikeluarkan akan lebih murah, misalnya mulai dari 10 dollar Australia (sekitar Rp 107.000) untuk beberapa kali makan.
Sementara itu, biaya untuk delivery atau makan di tempat mulai dari 15-30 dollar Australia (Rp 160.000-Rp 321.000).
Tak hanya itu, kemudahan juga ia rasakan dari kampusnya. Arrin menjelaskan bahwa dengan mendaftarkan diri, mahasiswa yang berpuasa bisa mendapatkan makanan berbuka gratis pada hari tertentu dengan kuota khusus.
Lalu, untuk ibadah salat Tarawih selama bulan Ramadan, ia biasanya pergi menuju mushala kampus yang jaraknya tidak jauh dari apartemen.
Ia mengatakan jika sedang memiliki banyak waktu luang, ia akan pergi ke masjid yang lebih besar di tengah kampus atau surau berisi komunitas orang-orang Indonesia.
"Ada juga surau yang suasananya memang seperti di Indonesia. Sekitar 7 kilometer dari apartemenku, 30 menitan. Di sana ceramahnya pakai bahasa Indonesia, lalu ditranslate pakai bahasa Inggris," kata Arrin.
Sebelum di Australia, Arrin pernah jalani kuliah S1 di Jepang. Dari dua negara ini, ia menilai kebersamaan puasa di tengah lingkungan Australia lebih terasa.
Baca juga: Persiapan menuju Ramadan, Inilah Keutamaan Zikir
Salah satu alasannya, karena komunitas Muslim di Melbourne lebih banyak dan beragam, tidak hanya mayoritas berasal dari Indonesia.
"Sekarang merasa lebih bareng-bareng karena orang yang berpuasa lebih banyak. Sering ditanyain sama orang-orang yang baru kenal 'How's your Ramadhan?', jadi berasa lebih diperhatikan".
Ia melanjutkan, masyarakat setempat juga lebih beragam dan toleransinya tinggi. Jika di Jepang kebanyakan yang berpuasa adalah orang Indonesia, di Melbourne banyak orang Arab juga berpuasa. (*/tribunbatam.id)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
Baca berita Tribun Batam lainnya di Google News
| Awal Ramadan 1447 Hijriah Berbeda, Ketua MUI Batam Imbau Umat Islam Tetap Jaga Ukhuwah |
|
|---|
| Pemantauan Hilal 1 Ramadan 1447 H di Pantai Pelawan Karimun Terhalang Cuaca Mendung |
|
|---|
| Suasana Salat Tarawih Perdana Warga Muhammadiyah Dabo Singkep Lingga Sambut Ramadan 1447 H |
|
|---|
| Hilal 1 Ramadan 2026 Tak Terlihat di Pantai Setumu Tanjungpinang, Cuaca Jadi Penyebab |
|
|---|
| Warga Muhammadiyah Salat Tarawih Perdana di Masjid Al-Taqwa Batu 8 Tanjungpinang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/08022024Masjid-Raya-Melbourne-Australia.jpg)