Selasa, 28 April 2026

FLYOVER LAKSAMANA LADI BATAM

Nama Flyover Laksamana Ladi Batam Minta Ditinjau Ulang, LAM Kepri Beri Penjelasan

LAM Kepri mengusulkan untuk koreksi, peninjauan ulang dan meminta kajian ilmiah dilakukan untuk penamaan flyover Laksamana Ladi Batam.

Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Ucik Suwaibah
FLYOVER LAKSAMANA LADI BATAM - Peresmian Flyover Laksamana Ladi di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (31/12/2024). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Penamaan Flyover Laksamana Ladi yang baru-baru ini diresmikan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi kemarin menimbulkan pertanyaan masyarakat.

Datok Machmur Ismail, Anggota Dewan Kehormatan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri mengatakan jika nama tersebut tak dikenal masyarakat Melayu.

Menurutnya, nama itu tidak tercatat dalam sejarah lokal. 

"Saya sudah 75 tahun, lahir di sini. Nama itu tidak pernah saya dengar sebelumnya. Kalau disebut nama itu berasal dari nama pahlawan Laksamana Ladi, maaf saya tidak bisa berkomentar. Saya pun tak tahu nama itu,"  ujar Datok Machmur, Rabu (1/1/2025).

Ia menambahkan jika ada sejarah tentang Mentiang dimana namanya diambil karena ada pohon besar di sana yang disebut pohon Mentiang.

Baca juga: Laksamana Ladi, Nama Bangsawan Melayu yang Kini Melekat pada Flyover di Batam

Wilayah tersebut dikenal sebagai Sei Ladi atau Sungai Ladi.

Dimana tepat disebelahnya merupakan waduk sei ladi.

Nama 'Ladi', katanya, berasal dari pohon keladi yang banyak tumbuh di kawasan itu, bukan tokoh sejarah.

"Di sana dulu banyak orang mencari ikan dan kepiting. Tapi wallahualam siapa yang menamainya pertama kali. Yang jelas, dahulu memang banyak pokok (pohon) keladi," ujarnya menjelaskan.

Pria kelahiran tahun 1950 itu menuturkan Laksamana Ladi juga tak ditemukan dalam sejarah Kerajaan Riau Lingga.

Baca juga: Flyover Laksamana Ladi Batam, Infrastruktur Baru Diharapkan Genjot Pertumbuhan Investasi

LAM Kepri sudah membahas masalah ini, mengusulkan untuk koreksi, peninjauan ulang dan meminta kajian ilmiah dilakukan.

"Dalam hal ini, sebaiknya didudukkan terlebih dahulu bersama dengan orang-orang tua, terutama dengan lembaga adat Melayu sebelum keputusan diambil," tambahnya.

Datok Machmur khawatir, penamaan ini dikhawatirkan memicu polemik atau anggapan LAM tidak peduli budaya Melayu.

"Kami mengarahkan agar dilakukan kajian ulang lah, sebelum terjadi nanti dibelakang hari, yang mungkin maaf, tidak senang dengan penamaan ini," tutupnya. (TribunBatam.id/Ucik Suwaibah)

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google News

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved