Medco Energi Kirim Struktur WHP-M Dari Fabrikasi Batam untuk Proyek Migas di Natuna Kepri

Proyek pengembangan energi nasional mencatatkan tonggak penting dari Batam. PT Medco Energi Internasional Tbk berangkatkan struktur WHP-M ke Natuna

Penulis: Pertanian Sitanggang | Editor: Dewi Haryati
Istimewa
TERUBUK PERTAMINA - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berangkatkan struktur atas Wellhead Platform M (WHP-M) dari fasilitas fabrikasi di Kabil, Batam menuju offshore Terubuk di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Senin (7/7/2025). 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Proyek pengembangan energi nasional mencatatkan tonggak penting dari Kota Batam.

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) resmi memberangkatkan struktur atas Wellhead Platform M (WHP-M) dari fasilitas fabrikasi di Kabil, Batam menuju offshore Terubuk di perairan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), Senin (7/7/2025), 

Proyek strategis ini dikerjakan oleh dua perusahaan nasional, PT Timas Suplindo dan PT Citra Tubindo Engineering (CTE), dengan melibatkan 650 tenaga kerja seluruhnya dari Indonesia, termasuk pekerja lokal Batam

Keberhasilan ini sekaligus menjadi simbol kemajuan industri migas nasional yang kini mampu berdiri di atas kekuatan sendiri.

Baca juga: Wakil Bupati Anambas Minta Anak Perusahaan BUMN dan SKK Migas Buka Kantor Cabang di Anambas

Senior Vice President Offshore Asset Medco E&P Indonesia, Ignatius Tenny Wibowo, menjelaskan bahwa topside WHP-M akan dipasang di atas struktur bawah (jacket) yang telah lebih dulu terinstalasi di laut. 

Dengan pipa yang juga telah siap, proses produksi migas dari platform M akan segera dimulai.

“Sumur sudah siap, topside segera terpasang, dan kami siap memproduksi minyak dan gas. Ini bukti komitmen kami dalam menjaga ketahanan energi nasional,” kata Tenny.

Dalam lima tahun terakhir, Medco telah membangun delapan anjungan lepas pantai satu di Jawa Timur dan tujuh di Natuna, sebagai bagian dari peta jalan energi jangka panjang.

Project Manager Medco E&P Indonesia, Erwin Indrawan, mengungkapkan bahwa topside WHP-M yang memiliki bobot sekitar 600 ton, berhasil difabrikasi hanya dalam waktu 6 bulan. Lebih cepat satu bulan dari WHP-L dan jauh di bawah rata-rata industri global yang biasanya membutuhkan waktu 10–12 bulan.

“Ini menjadi benchmark baru untuk proyek offshore di lapangan marginal. Kunci suksesnya adalah inovasi di bidang engineering, procurement, konstruksi, serta kolaborasi solid antarpihak,” kata Erwin.

Sebelumnya, WHP-L juga telah berhasil dipasang dan berproduksi lebih cepat dari jadwal. Presiden RI Prabowo Subianto bahkan meresmikan langsung onstream Lapangan Terubuk L pada April 2025.

Saat ini, WHP-L telah memproduksi 4.000 barel minyak dan 12 juta kaki kubik gas per hari. 

Dengan tambahan dari WHP-M, total target produksi gabungan mencapai 6.500 barel minyak dan 60 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Proyek Terubuk merupakan proyek multifaset yang mencakup dua topside, dua jacket, 51 kilometer pipa bawah laut, serta modifikasi pada struktur Belida DPP-A. 

Seluruh prosesnya dijalankan dengan memperhatikan protokol keselamatan tinggi.

Baca juga: Pemprov Kepri dan SKK Migas Perkuat Komitmen Kolaborasi Berkelanjutan

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved