HARI PERS NASIONAL
KJK Tanam Mangrove di Bintan, Simbol Persatuan dan Gotong Royong di Hari Pers Nasional 2026
Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) tanam mangrove di di Kampung Sungai Tiram, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kepri
Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Mairi Nandarson
Ringkasan Berita:
- Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) tanam mangrove di di Kampung Sungai Tiram, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan
- Menanam mangrove ini merupakan wujud komitmen KJK bahwa Hari Pers Nasional jadi momentum berkontribusi untuk lingkungan
- Dia mengajak seluruh insan pers menjadikan HPN 2026 sebagai pengingat bahwa pers yang kuat adalah pers yang peduli
TRIBUN BATAM.id, BINTAN - Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) tanam mangrove di di Kampung Sungai Tiram, Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (8/9/2026).
Giat ini merupakan serangkaian untuk memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri, Ady Indra Pewenari, mengatakan penanaman mangrove ini merupakan wujud nyata komitmen KJK bahwa peringatan Hari Pers Nasional tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai momentum untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat dan lingkungan.
“Pers tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan,” ujar Ady, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, mangrove memiliki peran strategis sebagai benteng alami dari abrasi dan dampak perubahan iklim. Selain itu, mangrove juga menjadi penopang kehidupan pesisir karena kemampuannya menghasilkan oksigen (O₂) dan menyerap karbon dioksida (CO₂) secara sangat efektif, bahkan mampu menyimpan karbon jauh lebih tinggi dibandingkan hutan tropis.
Ady mengungkapkan, kegiatan penanaman mangrove dimulai sejak tahun 2010 dan terus berlanjut hingga saat ini bersama masyarakat setempat serta para pecinta mangrove dari Jepang.
“Kalau dihitung secara luasan, kurang lebih sudah 100 hektare dengan sekitar 500 ribu batang mangrove jenis bakau yang telah kami tanam di kawasan ini,” akunya.
Tingginya tingkat keberhasilan penanaman mangrove di Sungai Tiram, lanjut Ady, membuat kawasan ini sering dijadikan lokasi studi banding oleh berbagai pihak dari sejumlah provinsi di Indonesia.
“Keberhasilannya karena kami menggunakan bibit setempat dan tidak asal menanam. Mangrove yang ditanam kami rawat dan jaga hingga bisa tumbuh mandiri. Ini tentu tidak mudah, butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit," ungkapnya.
Ady beri apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan penanaman mangrove tersebut.
“Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi amal kebaikan dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat sekitar,” ujarnya.
Dia mengajak seluruh insan pers menjadikan HPN 2026 sebagai pengingat bahwa pers yang kuat adalah pers yang peduli, tidak hanya terhadap informasi dan kebenaran, tetapi juga terhadap kelestarian lingkungan dan masa depan bersama.
“Filosofi akar mangrove yang saling silang menyilang menggambarkan persatuan, perlindungan, dan gotong royong dalam menghadapi tantangan pesisir,” kata Ady.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Haris Sofyan Hendriyanto, menyampaikan permohonan maaf karena Menteri Kehutanan tidak dapat hadir dan meminta dirinya untuk mewakili.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Tanam-Mangrove-di-Bintan-7888.jpg)