Kamis, 23 April 2026

KECELAKAAN DI BINTAN

Saksi Dengar Teriakan dan Suara Gubrak Sebelum IRT Tewas dalam Kecelakaan di Bintan

Suhaiti warga Bintan sebut mendengar suara teriakan dan gubrak sebelum menyadari ada kecelakaan dekat rumahnya. Seorang IRT tewas dalam kejadan ini

|
Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Dewi Haryati
Tribun Batam.id/ Ronnye Lodo Laleng
SAKSI MATA - Suhaiti, saksi mata kecelakaan maut di Bintan yang menewaskan Yarmi (51),  warga RT004/RW009, Dusun lll, Kampung Purwodadi, Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan, menceritakan kronologi kecelakaan 

BINTAN, TRIBUNBATAM.id - Kecelakaan maut menimpa seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) saat berkendara dengan sepeda motor di Jalan Lama Tanjungpinang-Tanjunguban, Bintan, Kilometer (Km) 64, Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.

Nyawa perempuan bernama Yarmi (51),  warga RT004/RW009, Dusun lll, Kampung Purwodadi, Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Bintan, Kepri itu melayang, diduga akibat tali tas yang sudah usang dan mantel plastik yang dikenakannya tersangkut pada bagian gir sepeda motor, saat menjemput cucu dan keponakannya. 
 
Kejadian nahas ini terungkap berdasarkan keterangan saksi mata, Suhaiti yang melihat langsung peristiwa kecelakaan tunggal tersebut. 

Untuk mengetahui informasi ini lebih dalam, berikut petikan wawancara eksklusif wartawan TribunBatam.id, Ronnye Lodo Laleng (TB) dengan saksi mata Suhaiti (S).

TB : Ibu melihat kecelakaan tunggal ini terjadi pada pukul berapa?

S : Insiden itu terjadi pada Selasa (21/4/2026) sekira pukul 10.30 WIB. Saat itu korban (Yarmi) sedang membonceng dua anak dari arah Simpang Lagoi menuju ke kampung Purwodadi. 


TB : Apa respons ibu saat melihat langsung kejadian maut itu?

S : Pertama saya mendengar ada suara teriakan ha.....Mulanya saya tidak respons. Saya baru keluar rumah setelah ada bunyi gubrak dari arah jalan. Saya lalu menghampiri sepeda motor itu.


TB : Apa yang dilakukan pertama kali saat melihat korban sudah tengkurap di atas aspal?

S : Saya lari sendirian ke depan. Saya ingin menyelamatkan anaknya. Hanya saja tidak bisa karena posisi kedua anak diikat di pinggang korban menggunakan kain.

Kebetulan ada dua orang laki-laki lewat, saya minta tolong untuk membuka ikatan kainnya.


TB : Setelah terlepas dari pinggang korban apakah ibu menolong kedua anak itu?

S : Ya, saya buru-buru membawa anaknya ke rumah saya yang letaknya tepat di depan Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kedua anak hanya alami luka di bagian wajah saja.


TB : Lalu bagaimana dengan kondisi korban?

S : Kondisi korban sudah dalam kondisi tak sadarkan diri, korban alami luka serius di sekujur tubuh. Banyak darah yang keluar, sehingga saya tak berani menolong sendirian.


TB : Bisa diceritakan, bagaimana proses evakuasi korban?

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved