Jumat, 5 Juni 2026

Dari Jualan Keliling ke Restoran Legendaris, Lompatan Besar Jejamuran Lewat Cinta dan Edukasi

Jatuh bangun Ratidjo Hardjosuwarno mengembangkan bisnis jamur dari bisnis kecil hingga menjadi restoran legendaris.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Khistian Tauqid | Editor: Karunia Rahma Dewi
Tribun Batam/Khistian Tauqid
PERJUANGAN BISNIS JAMUR - Di balik kelezatan sate jamur dan tongseng jamurnya yang legendaris, ada kisah perjuangan luar biasa dari sang pendiri, Ratidjo Hardjosuwarno. 

Karena awalnya warga takut keracunan dan menolak membeli, Ratidjo memberikan jamur tersebut secara gratis. 

Begitu warga berani mencicipi dan ketagihan, barulah pasar mulai terbentuk.

Beberapa pengunjung sedang melihat jamur yang diproduksi Jejamuran.
Beberapa pengunjung sedang melihat jamur yang diproduksi Jejamuran di Yogyakarta.

Modal Rp200 Ribu dan Kepercayaan Bank BRI

Perjalanan berlanjut dengan membuka warung makan kecil di sebuah ruko. 

Formulanya sederhana namun maut: Ratidjo yang memanen jamur, dan sang istri yang dikenal pintar masak yang mengolahnya menjadi hidangan lezat.

Setiap kali ada tamu datang, Ratidjo selalu meluangkan waktu untuk mengobrol dan menyelipkan edukasi seputar jamur. 

Strategi word of mouth (pemasaran dari mulut ke mulut) ini berhasil. Warung kecilnya mulai kebanjiran pengunjung.

“Dulu yang panen jamur saya, kemudian istri yang memasak karena dia pintar masak.”

Namun, keterbatasan modal sempat menjadi batu sandungan. Di awal merintis ruko, Ratidjo bahkan hanya memegang dana sebesar Rp200 ribu untuk membeli meja dan kursi bekas di pasar luar. 

Bahkan, saat kapasitas restoran tidak muat menampung membludaknya pengunjung, ia harus meminjam kursi inventaris milik RT dan RW setempat.

Lompatan besar terjadi pada tahun 2006. Di saat bank-bank lain menganggap bisnis budidaya jamur berisiko tinggi dan tidak layak mendapat pinjaman, Bank BRI hadir memberikan modal kepercayaan sebesar Rp25 juta. 

Dari sinilah Jejamuran mulai memperluas areanya hingga mampu menampung 2.000 hingga 3.000 konsumen per hari di masa kejayaannya.

"Awalnya tidak ada bank yang menawarkan, waktu jualan itu saya dianggap belum layak dan risiko tinggi. Saya kemudian datang ke BRI, dipercaya waktu itu, saya pun yakin bisa mengembalikan.”

Jamur Kuping yang diproduksi oleh restoran Jejamuran di Yogyakarta.
Jamur Kuping yang diproduksi oleh restoran Jejamuran di Yogyakarta.

Menghidupkan Ekonomi Petani Lokal

Kini, Jejamuran tidak lagi sekadar rumah makan. Bisnis mereka telah menggurita dari hulu ke hilir.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved