Minggu, 31 Mei 2026

Dari Jualan Keliling ke Restoran Legendaris, Lompatan Besar Jejamuran Lewat Cinta dan Edukasi

Jatuh bangun Ratidjo Hardjosuwarno mengembangkan bisnis jamur dari bisnis kecil hingga menjadi restoran legendaris.

Tayang:
Penulis: Khistian Tauqid | Editor: Karunia Rahma Dewi
Tribun Batam/Khistian Tauqid
PERJUANGAN BISNIS JAMUR - Di balik kelezatan sate jamur dan tongseng jamurnya yang legendaris, ada kisah perjuangan luar biasa dari sang pendiri, Ratidjo Hardjosuwarno. 

TRIBUNBATAM.id - Bagi para pencinta kuliner yang berkunjung ke Yogyakarta, bisa memasukkan restoran Jejamuran berbasis agrowisata ke dalam daftar wajib kunjung. 

Namun, di balik kelezatan sate jamur dan tongseng jamurnya yang legendaris, ada kisah perjuangan luar biasa dari sang pendiri, Ratidjo Hardjosuwarno.

Memulai segalanya dari nol, Ratidjo membuktikan bahwa bisnis yang diawali dengan hati dan rasa suka akan membuahkan hasil yang luar biasa.

Menariknya, Ratidjo bukanlah seorang lulusan sekolah pertanian. 

Keahliannya memahami karakteristik jamur lahir dari pengalaman dan kedekatan emosionalnya dengan tanaman tersebut.

“Meskipun saya itu gak sekolah pertanian, tapi saya bisa mengerti soal Jamur. Karena Jamur itu gak bohong. Jamur itu seperti sahabat, bisa menunjukan tanda-tandanya,” kenang Ratidjo, pada Selasa (14/42026).

Bagi Ratidjo, mengelola tanaman hidup memerlukan ilmu pengetahuan dan rasa cinta. 

Sejak tahun 1980-an, ia sudah melalang buana mengelola perusahaan budidaya jamur di berbagai daerah di Jawa, mulai dari Bandung, Jawa Timur, hingga kawasan Dieng yang dingin.

Ia paham betul karakteristik makrofungi atau kelompok jamur yang tumbuh di dataran tinggi dan rendah.

Tantangan Awal

Setelah memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja, Ratidjo pulang ke Yogyakarta untuk memulai usahanya sendiri. 

Tantangan besar langsung menghadang. Jamur hasil panennya bersama petani lokal tidak laku dijual.

Usut punya usut, masyarakat Indonesia kala itu baru makan jamur setahun sekali saat musim hujan itu pun hasil memetik liar di halaman rumah.

“Tapi jamur yang tumbuh di halaman itu tidak semuanya bisa dimakan. Ada yang beracun. Akhirnya saya berpikir, masyarakat Indonesia perlu diedukasi,” jelasnya.

Ratidjo pun mulai berjualan dari rumah ke rumah demi mengedukasi warga bahwa jamur budidayanya aman dan bebas racun. 

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved