Minggu, 10 Mei 2026

Kisah Nelayan Karimun Hanyut ke Malaysia, Bertahan 24 Jam Usai Mesin Kapal Mati

Nelayan Karimun yang hanyut ke perairan Malaysia ceritakan kronologi kejadian sebelum berhasil diselamatkan oleh pihak Malaysia dan SAR gabungan

Tayang:
Penulis: Fairoz Zamani | Editor: Dewi Haryati
Fairoz Zamani/TribunBatam.id/Fairoz Zamani
NELAYAN KARIMUN - Supianto, nelayan Karimun yang sempat hanyut hingga ke Perairan Malaysia. Foto diambil Selasa (14/4/2026) 

KARIMUN, TRIBUNBATAM.id - Supianto (44), nelayan Karimun, kini sudah kembali ke rumah keluarganya setelah dievakuasi SAR gabungan di perairan Malaysia, lewat diplomasi lintas negara pada Minggu (12/4/2026) lalu.

Itu setelah kapalnya hanyut hingga ke perairan Malaysia, akibat mesin kapal rusak. 

Ya, warga Sungai Pasir Karimun itu sempat hanyut kurang lebih 24 jam dari waktu mesin kapal rusak hingga akhirnya ditemukan. 

Kejadian berawal pada Sabtu (11/4/2026) lalu, Supianto (tekong) dan Zulkifli (ABK), pergi melaut untuk memasang rawai.

Saat berangkat, kondisi mesin kapal masih dalam keadaan baik. Terlebih kapal itu belum genap sebulan dipakainya. 

“Saya perdana pergi merawai dengan membawa 700 mata rawai. Kapal pompong saya juga masih baru. Belum ada sebulan saya beli dengan kawan," ujarnya, Selasa (14/4/2026) kepada Tribunbatam.id

Awalnya semua berjalan lancar. Namun setelah 100 mata rawai dicampakkannya ke laut, mesin kapal mengalami masalah, dan mati total.

Di tengah situasi itu, Supianto sempat menghubungi saudaranya. Ia mengabarkan mesin kapalnya mengalami masalah di tengah laut. 

“Setelah dicek, ternyata stater mesin kapal saya yang rusak. Saya cepat mengabari saudara, takutnya nanti hilang sinyal," kata Supianto. 

Segala upaya dan cara dilakukannya kala itu, untuk mengurangi kemungkinan risiko yang dihadapi. Di antaranya dengan menurunkan jangkar agar kapalnya tidak hanyut jauh. 

“Saya turunkan jangkar, tapi pada saat saya lagi betulkan mesin, ternyata jangkar putus. Hanya tinggal jangkar rawai. Jangkar rawai itu tak kuat menahan arus laut,” tuturnya. 

Sembari menunggu pertolongan datang, usaha lain ia lakukan dengan membuat layar dari alat-alat seadanya yang tersedia. 

“Pada kondisi itu saya buat layar dengan dua kayu. Saya pakai semacam terpal, saya buat sebagai ikhtiar agar kapal ini bisa hanyut mengikuti arah angin. Siapa tahu bisa ke perairan Karimun lagi,” kata Supianto. 

Nyatanya tidak. Kapal Supianto hanyut hingga ke perairan Kukup, Malaysia. Saat dievakuasi SAR gabungan, kapal Supianto itu tengah bersandar di kapal tanker raksasa.

Supianto mengatakan, kapal pompongnya yang bersandar di kapal tanker itu merupakan koordinasi dari pihak polisi Malaysia yang melakukan evakuasi penjemputan pertama di lokasi tersebut. 

“Kalau itu bantuan dari polisi melakukan penarikan ke kapal tanker itu. Informasinya saya bakalan di jemput pihak Tanjung Balai di kapal tanker itu, tapi sebelum itu pihak kepolisian Malaysia memberikan bantuan awal seperti berusaha menghidupkan mesin,” ungkapnya. 

Bukan Kejadian Pertama

Supianto mengatakan kejadian ini bukan kejadian pertama baginya. Beberapa tahun lalu, hal serupa juga terjadi. Kapalnya hanyut hingga ke pesisir perairan Malaysia

“Dulu juga pernah kejadian sekitar 5 tahun lalu. Itu saya 2 hari di perairan Malaysia. Tapi itu saya ada bekal dan makanan cukup. Ada kompor,” kata Supianto. 

Dengan kejadian terbaru ini, Supianto untuk sementara waktu tidak bisa menggunakan kapalnya pergi melaut. Ia masih menunggu hingga mesin kapalnya selesai diperbaiki. (TribunBatam.id/Fairozzamani

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved