Jumat, 22 Mei 2026

NELAYAN HILANG DI KARIMUN

Nelayan Karimun 4 Hari Terombang-Ambing Hingga Malaysia, Iskandi Berjuang Antara Hidup dan Mati

Seorang nelayan Karimun, Tengku Iswandi menceritakan pengalaman dia antara hidup dan mati empat hari terombang-ambing hingga perairan Malaysia.

Tayang:

TRIBUNBATAM.id, KARIMUN - Tengku Iskandi, nelayan asal Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sempat di persimpangan antara hidup dan mati, setelah empat hari terombang-ambing hingga perairan Batu Pahat, Johor, Malaysia.

Kepada wartawan TribunBatam.id di Karimun, Fairoz Zamani, pria 35 tahun itu mengaku baru pertama kali mengalami hal ini setelah melaut sejak SMP.

Saat kejadian Tengku Iskandi tak sendirian.

Ada Haidir, nelayan Karimun lainnya dalam kapal yang ketika itu mengalami rusak mesin.

Semua berawal ketika mereka berangkat melaut pada Kamis (7/5/2026) sekira pukul 17.00 WIB.

Dari Kabupaten Karimun, semua tampak normal-normal saja. 

Sampai mereka tiba di lokasi tempat biasa memancing sekira pukul 23.00 WIB.

Saat di lokasi ini, Iskandi mulai curiga dengan kondisi mesin kapal.

Sebab mesin kapal butuh waktu cukup lama untuk hidup.

"Hanya 15 menit kemudian mati lagi. Kami putuskan untuk turunkan jangkar, tapi jangkar kami tak sampai dasar pula. Sampai akhirnya kami hanyut," ceritanya saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/5/2025).

Situasi makin pelik karena diantara mereka tidak membawa ponsel. 

Apalagi kondisi angin kencang dan hujan deras sempat mereka alami di perairan yang banyak dilintasi kapal tanker itu.

Sebisa mungkin mereka berusaha meminta pertolongan jika melihat ada kapal yang melintas.

Sementara perbekalan yang mereka bawa, hanya cukup untuk mereka melaut hari ini saja.

Pikirannya makin kalut setelah melihat stok air bersih yang kian menipis.

"Cuma bisa sekali masak nasi saja. Sesudah itu sudah tidak ada air lagi. Kami sudah mencoba melambai, meminta tolong ke orang, tapi tak ada juga yang membantu saat itu," ungkapnya.

Waktu terus bergulir hingga memasuki hari keempat. Mereka sama sekali tak memiliki makan dan minum.

Upaya untuk meminta tolong terus mereka lakukan, meski hasilnya masih nihil.

Iskandi bahkan sempat mengonsumsi air laut karena tak tahan lagi dengan haus dahaga yang menderanya.

"Sempat satu kali saya minum air asin, tak tahan lagi (karena) haus, tapi sudah minum air asin itu (malah) tambah haus lagi jadinya, tenggorokan tambah kering, jadi tak bisa minum air asin," sebutnya.

Hingga secercah harapan datang. Satu unit kapal nelayan Malaysia akhirnya menolong mereka.

Posisi mereka ketika itu sudah berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia.

"Masih di perairan nasional, cuma sudah jauh ke bawah gitu di perairan Malaysia," bebernya.

Tengku Iskandi memberanikan diri untuk meminta air kepada orang di dalam kapal Malaysia itu.

Iskandi pun mengaku jika orang dalam kapal nelayan Malaysia itu iba setelah apa yang mereka alami.

"Mereka kaget karena kami empat hari tak makan dan minum. Mereka kemudian memberi kami air minum dan roti. Di situ kesempatan saya memberi nomor Abang saya. Minta tolong berikan informasi bahwa kami masih selamat. Kami juga meminta tolong sampaikan agar menjemput kami di lokasi ini," sebut nelayan Karimun itu.

Minggu, 10 Mei 2025 sekira pukul 5 sore waktu setempat, orang yang menolong Iskandi dan Haidir kemudian menghubungi Abang Tengku Iskandi.

Hingga dini hari Abang Tengku Iskandi menjemput mereka berdua. 

Perasaan cemas selama empat hari itu berakhir sudah setelah Tengku Iskandi melihat langsung Sang kakak hingga tiba di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.

Hingga pukul 3 dini hari, ia diantar Babinsa setempat sampai ke Kabupaten Karimun

Ia tak langsung dibawa ke rumah, melainkan dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis.

Iskandi mengaku kondisinya saat itu benar-benar lemah.

Nelayan Karimun itu bahkan mengaku sudah tidak mampu berdiri lagi. 

Namun tekadnya yang kuat untuk terus bertahan hidup dan pulang memberinya kekuatan.

"Setelah dijemput, posisi sudah setengah jalan, sudah empat jam perjalanan kami lihat cuaca tak bagus. Kondisi saya masih lemah, saya disuruh pulang dulu lebih awal. Sementara Abang saya jaga pompong yang rusak ini sambil menunggu jemputan berikutnya," cerita Iskandi. (TribunBatam.id/Fairoz Zamani)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved