PARKIR DI BATAM
Bayar Parkir Nontunai di Batam via QRIS Kurang Diminati: Posisi Barcode, Ribet Jadi Sebab?
Penerapan sistem e-parking berbasis QRIS di Batam belum berjalan optimal. Juru parkir ungkap sebab warga enggan bayar nontunai.
Penulis: Pertanian Sitanggang | Editor: Dewi Haryati
Ringkasan Berita:
- Penerapan sistem e-parking berbasis QRIS di Batam belum berjalan optimal
- Petugas parkir menyebut rendahnya minat QRIS dipicu posisi barcode yang tidak ramah pengguna serta proses pembayaran yang dianggap ribet
- Hingga kini, e-parking QRIS baru diterapkan di 100 titik parkir yang dikelola pihak ketiga, dengan opsi pembayaran tunai tetap tersedia
- Dishub Batam menegaskan jukir tidak boleh menolak pembayaran non-tunai di titik QRIS dan berharap sistem ini dapat meningkatkan pelayanan serta PAD
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Penerapan sistem e-parking berbasis QRIS di sejumlah titik parkir di Batam belum berjalan optimal.
Warga masih enggan menggunakan metode pembayaran non-tunai tersebut, dan lebih memilih membayar parkir secara manual.
Hal ini diungkapkan oleh seorang petugas parkir yang berjaga di salah satu titik parkir barcode di kawasan Batam Centre.
Menurutnya, meski fasilitas pembayaran digital sudah disediakan, minat masyarakat masih sangat rendah.
“Barcode sudah dipasang di lokasi. Kalau mau bayar pakai QRIS, pengendara tinggal scan saja,” ujar petugas tersebut, Jumat (23/1/2026), seraya meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Sumber menjelaskan, penerapan e-parking tidak menghilangkan pembayaran tunai. Sistem ini hanya menambah opsi bagi pengguna jasa parkir.
“Kalau mau bayar pakai QRIS silakan, kalau mau manual juga boleh. Tidak ada paksaan,” katanya.
Petugas tersebut menyebutkan, terdapat perbedaan visual antara titik parkir yang sudah mendukung QRIS dan yang belum.
Untuk parkir e-parking, petugas menggunakan rompi berwarna biru dan dilengkapi barcode pembayaran. Sementara parkir konvensional masih menggunakan rompi pink.
“Secara sistem penarikan sebenarnya sama saja. Bedanya cuma di pilihan cara bayar,” ujarnya.
Namun dalam praktiknya, warga masih enggan menggunakan QRIS. Salah satu alasan utama, letak barcode yang dinilai tidak ramah pengguna.
“Barcode-nya jauh dan posisinya tinggi, jadi susah dijangkau. Selain itu prosesnya juga dianggap ribet,” ujarnya.
Ia menyebut, setelah melakukan pemindaian barcode dan pembayaran, warga masih harus memfoto bukti transaksi. Selanjutnya, bukti tersebut dilaporkan oleh petugas kepada atasan mereka.
“Warga biasanya maunya cepat dan praktis. Kalau ribet, mereka lebih pilih bayar manual,” katanya.
| Usai Disorot, Trotoar Greenland Tak Lagi Jadi Area Parkir saat Komisi III DPRD Batam Sidak |
|
|---|
| Pedestrian Green Land Alih Fungsi Jadi Parkir, Anggota DPRD Batam Sentil Kinerja Dishub |
|
|---|
| Pedestrian di Batam Beralih Fungsi Jadi Tempat Parkir, Akademisi Nilai Tata Kelola Kota Kronis |
|
|---|
| Area Pejalan Kaki di Batam Berubah Fungsi Jadi Tempat Parkir, DPRD Batam Bakal Cek Lapangan |
|
|---|
| Setoran ke Pemko Batam dari Bahu Jalan Depan PT Panasonic Hanya Rp180 Ribu Sehari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Titik-parkir-Qris-di-Batam-centre.jpg)