Rabu, 29 April 2026

LIMBAH DI BATAM

Limbah Hitam Diduga B3 Cemari Pesisir Dangas Batam, Berat Diperkirakan 10 Ton

Upaya pembersihan tumpahan limbah hitam di perairan Dangas, Sekupang, Kota Batam, masih jauh dari kata tuntas.

Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Ucik Suwaibah
LIMBAH DI BATAM - Potret sejumlah plastik dan jumbo bag berisi limbah hitam yang terdampar di pesisir Pantai Dangas dan Kawasan Wisata Tangga Seribu, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Senin (2/2/2026). Upaya membersihkan limbah diduga B3 masih terus dilakukan. Total limbah hitam ditaksir mencapai 10 ton. 
Ringkasan Berita:
  • Warga Batam dibantu operasional perusahaan masih membersihkan limbah hitam diduga B3 di perairan Dangas, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
  • Mereka baru mampu membersihkan sekitar 3 ton, total keseluruhan ditaksir mencapai 10 ton.
  • Limbah hitam tersebut diduga berasal dari muatan kapal LCT yang mengangkut sisa pembersihan tangki kapal tanker.
  • Nelayan setempat mulai merasakan dampak dari tumpahan limbah itu.

 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Upaya membersihkan tumpahan limbah hitam di perairan Dangas, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih jauh dari kata tuntas.

Warga dan nelayan setempat yang dibantu operasionql perusahaan sejauh ini baru mampu mengangkat sekitar tiga ton limbah yang diduga limbah bahan berbahaya dan beracun alias B3.

Sementara perkiraan limbah yang telah mencemari pesisir mencapai 10 ton.

Pembersihan dilakukan secara swadaya sejak kapal pengangkut limbah hitam kandas di perairan dekat kawasan wisata Tangga Seribu, Kamis (29/1/2026) lalu.

Tanpa peralatan memadai, warga mengangkat limbah kental yang menghitamkan pasir pantai dan perairan dangkal.

Nelayan sekaligus Humas Kawasan Wisata Tangga Seribu, Joni Ramson, mengatakan limbah yang berhasil dikumpulkan merupakan bagian yang tercecer saat insiden terjadi.

"Pada malam kejadian kami langsung angkat supaya tidak menyebar. Sekitar tiga ton berhasil dikumpulkan. Untuk yabg lain di pesisir ini perkiraan ada 10 ton," ujar Jo sapaannya.

Namun, kondisi alam justru memperparah situasi.

Saat air pasang naik, sisa limbah kembali terbawa arus dan menyebar ke pesisir Pantai Dangas hingga kawasan wisata.

"Karena air pasang, limbahnya masuk lagi ke pesisir. Kalau dihitung keseluruhan yang ada di laut dan pantai, perkiraannya bisa sampai 10 ton," kata Jo.

Limbah hitam tersebut diduga berasal dari muatan kapal LCT yang mengangkut sisa pembersihan tangki kapal tanker.

Material kental itu sebagian menggumpal, sebagian lagi menempel di mangrove, pasir pantai, serta alat tangkap nelayan.

Dampaknya langsung dirasakan warga.

Nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena ikan, kepiting, dan udang menjauh dari lokasi tercemar.

"Minyaknya lengket ke bubu. Kepiting tidak mau masuk. Kami mau melaut juga sudah tidak bisa," keluh Jo.

Sebagai pengelola wisata, ia menyebut kawasan Tangga Seribu terancam ditutup sementara demi keselamatan pengunjung.

Air laut yang menghitam dan bau minyak menyengat membuat aktivitas wisata tidak memungkinkan.

"Kalau mandi atau mancing jelas bahaya. Ini bukan cuma soal wisata sepi, tapi keselamatan," ungkapnya.

Hingga kini, pembersihan di pesisir masih mengandalkan tenaga warga dan nelayan.

Sementara itu, belum ada kepastian terkait penanganan lanjutan maupun kompensasi atas dampak pencemaran.

"Kami berharap perusahaan bertanggung jawab. Yang dibersihkan baru sebagian kecil, sisanya masih di laut," tegas Jo.

Ia menilai, tanpa penanganan serius dan cepat, pencemaran berpotensi meluas dan merusak ekosistem dalam jangka panjang. (TribunBatam.id/Ucik Suwaibah)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved