Sabtu, 25 April 2026

LIMBAH DI BATAM

Limbah Hitam Kepung Pulau Labu Batam, Ratusan Nelayan dan Warga Tempatan Terdampak 

Limbah hitam pekat kembali mencemari perairan Batam, kali ini, tumpukan minyak kental menyerupai aspal menggenangi wilayah pesisir Pulau Labu, Bulang.

Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Istimewa
LIMBAH DI BATAM - Potret perairan Pulau Labu, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tercemar limbah hitam dekat dengan permukiman warga, Minggu (15/2/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Limbah minyak hitam kembali cemari perairan Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
  • Kali ini, tumpukan minyak kental mirip aspal menggenangi wilayah pesisir Pulau Labu, Kecamatan Bulang.
  • Warga pertama kali menemukan limbah minyak hitam itu pada Sabtu (14/2/2025) malam.
  • Tambah panjang daftar panjang limbah yang cemari perairan Batam. Sebelumnya perairan Dangas, Kecamatan Sekupang tercemar limbah dari kapal yang kandas pada Kamis (29/1/2026).

 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Limbah hitam pekat kembali mencemari perairan Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Setelah perairan Dangas, Kecamatan Sekupang yang tercemar limbah minyak hitam dari kapal LCT Mutiara Galrib yang kandas sejak Kamis (29/1/2026), kali ini tumpukan minyak kental menyerupai aspal menggenangi wilayah pesisir Pulau Labu, Kecamatan Bulang, Kota Batam.

Limbah minyak hitam itu dilaporkan muncul sejak Sabtu (14/2/2026) malam. 

Warga pertama kali mengetahui adanya limbah sekira pukul 20.30 WIB, saat air laut pasang. 

Minyak hitam itu sudah menumpuk hingga ke bawah rumah-rumah pelantar.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) DKP Kepri, Moh. Safet, mengatakan hingga kini sumber limbah belum diketahui pasti.

"Warga tahu dari pukul semalam. Saat air pasang, limbah sudah menumpuk di bawa rumah-rumah. Malam itu juga warga menelusuri sumbernya, tapi sampai hari ini belum diketahui pasti dari mana," ujar Safet kepad TribunBatam.id, Minggu (15/2/2026).

Namun, masyarakat menduga limbah berasal dari aktivitas galangan kapal di sekitar perairan tersebut.

"Dugaan masyarakat, limbah itu bersumber dari kegiatan shipyard yang ada di sekitarnya," tambahnya.

Safet menjelaskan, bentuk limbah menyerupai aspal yang kental dan lengket. 

Saat pasang, limbah menghantam Pulau Labu.

Namun ketika surut, percikan minyak bergeser hingga ke perairan Pulau Buluh.

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan warga pesisir.

"Bau minyaknya menyengat sekali. Kalau siang hari pas cuaca panas, uapnya bikin sesak napas. Warga takut ISPA," kata dia.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved