Senin, 27 April 2026

Rumah di Melcem Batam Tertimbun Lumpur, Warga Sebut Akibat Perusahaan Potong Bukit

Material lumpur dan batu turun dari bukit di samping permukiman yang tengah dilakukan aktivitas pemotongan lahan oleh salah satu perusahaan.

TribunBatam.id/Beres Lumbantobing
LONGSOR DI BATAM - Potret kondisi jalan hingga dalam rumah warga Kaveling Melcem tertutup lumpur tanah Kaveling Sei Tering, RT 2 hingga RT 3 RW 07 Kavling Melcem, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tertimbun lumpur dan bebatuan pada Jumat (20/2/2026).  

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Puluhan rumah warga di Kaveling Sei Tering, RT 2 hingga RT 3 RW 07 Kavling Melcem, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tertimbun lumpur dan bebatuan pada Jumat (20/2/2026). 

Peristiwa yang terjadi saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut membuat warga panik, bahkan beberapa penghuni rumah sempat terjebak di dalam lumpur.

Ketua RW 07 Kavling Melcem, Siti Fatimah, menyebutkan bahwa material lumpur dan batu turun dari bukit di samping permukiman yang tengah dilakukan aktivitas pemotongan lahan oleh salah satu perusahaan.

“Puluhan rumah warga tertimbun lumpur. Tingginya sampai seatas lutut orang dewasa. Parahnya lagi, ada warga yang terjebak di dalam rumah karena kejadian berlangsung malam hari,” ujar Siti Fatimah.

Berdasarkan pendataan sementara, terdapat empat rumah yang mengalami kerusakan parah dan tidak bisa ditempati; sementara sekitar 20 rumah lainnya kemasukan lumpur dengan tingkat kerusakan bervariasi. 

Sejumlah warga terpaksa mengungsi karena kondisi rumah tidak memungkinkan untuk dihuni.

Pantauan di lokasi, lumpur berwarna kuning pekat menyelimuti lantai rumah hingga setinggi lutut orang dewasa.

Perabotan rumah tangga rusak, dapur tidak bisa digunakan, dan hingga Sabtu pagi warga masih berjibaku membersihkan sisa material yang mengendap di dalam rumah.

“Banyak warga tidak bisa masak, bahkan ada yang tidak sahur karena dapur tertutup lumpur. Sampai detik ini masih tidak bisa memasak,” tambahnya.

Warga mengaku heran dengan banjir lumpur tersebut. Pasalnya, selama 25 tahun bermukim di kawasan itu, belum pernah terjadi banjir.

“Namanya kita di atas bukit, tidak mungkin banjir. Tapi sekarang aneh, jadi banjir. Lumpur dari pengerokan bukit oleh perusahaan di sebelah. Dari ketinggian sekitar 10 meter, tanah diturunkan ke bawah, sehingga air langsung mengalir ke permukiman,” jelas Siti.

Ia juga menyesalkan tidak adanya sosialisasi maupun komunikasi dari pihak perusahaan kepada warga maupun pengurus RT/RW terkait batas lahan dan dampak pengerjaan proyek.

“Waktu mulai pengerokan tidak pernah ada komunikasi. Kami hubungi berkali-kali tidak pernah dibalas. Baru setelah kejadian ini dan ramai di media sosial, mereka datang,” ujarnya.

Menurut Siti, dirinya telah bertemu dengan pihak lapangan perusahaan pada Jumat malam. Pihak perusahaan disebut meminta data warga terdampak dan berjanji akan memberikan ganti rugi serta membersihkan sisa lumpur.

“Mereka minta saya mendata warga yang terdampak, katanya akan bertanggung jawab, mulai dari pembersihan sampai ganti rugi. Mudah-mudahan sesuai komitmennya,” katanya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved