Kamis, 30 April 2026

SIDANG 2 TON SABU DI BATAM

Warga dari Kampung Bantu Keluarga Fandi Ramadhan Hadiri Sidang Pledoi Kasus 2 Ton Sabu di PN Batam

Warga dari kampung halaman bantu keluarga Fandi Ramadhan untuk bisa berada di Batam, termasuk menghadiri pledoi di PN Batam pada Senin (23/2/2026).

Tayang:
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Ucik Suwaibah
SIDANG 2 TON SABU DI PN BATAM - Ayah terdakwa Fandi Ramadhan, Sulaiman saat memeluk sang anak usai jalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (5/1/2026). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Proses persidangan kasus dugaan penyelundupan 2 ton sabu yang menjerat Fandi Ramadhan (25) terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Rencananya, sidang dengan pembacaan nota pembeleaan (pledoi) terdakwa akan digelar pada Senin (23/2/2026).

Kali ini, terdakwa terus mendapatkan dukungan dari warga dan keluarga di kampung halamannya.

Sebagai informasi, keluarga Fandi Ramadhan tinggal di Belawan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Solidaritas itu bahkan diwujudkan dengan bantuan sukarela biaya agar orangtua dan kerabatnya bisa menghadiri sidang di Pengadilan Negeri Batam.

Ayah Fandi, Sulaiman, mengaku sejak awal persidangan hingga mendekati pembacaan pledoi, dirinya tidak sendiri. 

Warga dan keluarga besar turut memberi dukungan, baik secara moril maupun materi.

"Dukungan pasti ada. Ada dari warga dan keluarga. Hari Senin tanggal 23 sidang pledoi besok, Insya Allah keluarga Belawan datang dan pelaut pelayaran pun menghadiri sidang," ujar Sulaiman saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026).

Dukungan itu tak hanya sebatas kehadiran di ruang sidang. Beberapa warga disebut ikut membantu biaya perjalanan keluarga dari luar daerah ke Batam.

Dikonfirmasi terpisah, kuasa hukum Fandi, Bakhtiar Batubara, membenarkan adanya bantuan dari warga yang dikumpulkan secara sukarela.

"Ya benar, keluarga klien saya ini bisa dikatakan keluarga orang susah lah, sehari-harinya nelayan. Jadi kadang-kadang datang dari Medan itu pun dibantu, orang Medan ini kan rasa kebersamaannya, kekeluargaannya tinggi. Solidaritasnya tinggi," kata Bakhtiar.

Menurutnya, bantuan tersebut dikumpulkan secara patungan, dengan angka nominalnya yang beragam.

"Dibantu warga, tetangga juga. Itu kumpul-kumpul, ada yang ngasih sepuluh ribu, dua puluh ribu, terkumpullah. Itulah kadang ongkos tambahan buat keluarga Fandi buat kemari," tambahnya.

Bakhtiar menilai solidaritas itu muncul bukan karena paksaan.

Melainkan sosok dari Fandi dikenal sebagai pribadi yang baik di lingkungan tempat tinggalnya sebelum bekerja sebagai anak buah kapal.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved