Minggu, 26 April 2026

SIDANG 2 TON SABU DI BATAM

Jerit Hati Fandi Ramadhan Jelang Sidang Pledoi 2 Ton Sabu di PN Batam: Aku Tersesat di Negeriku

Jerit hati Fandi Ramadhan, terdakwa 2 ton sabu di lorong PN Batam tuai perhatian pengunjung. Ia meneriakkan kegelisahan hatinya atas negara ini

|
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Dewi Haryati

Ringkasan Berita:
  • Enam terdakwa perkara hampir 2 ton sabu jalani sidang pledoi di PN Batam
  • Jerit hati Fandi Ramadhan, salah satu terdakwa, tuai perhatian pengunjung sidang
  • Aku tersesat di negeriku, tapi negara tidak mampu, begitu jeritan hatinya yang dituntut mati atas kasus ini

 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Enam terdakwa yang dituntut pidana mati atas perkara hampir 2 ton sabu akan menyampaikan pembelaan pada persidangan di Pengadilan Negeri Batam (PN) Batam, Senin (23/2/2026).

Jelang sidang, salah satu terdakwa kasus dugaan penyelundupan hampir 2 ton sabu menyuarakan kekecewaannya saat digiring ke Ruang Sidang Prof Soebekti.

Adapun enam terdakwa yaitu Leo Candra Samosir, Richard Halomoan, Fandi Ramadhan, Hasiholan Samosir, dan dua Warga Negara Thailand Weerapat Phongwan dan Teerapong Lekpradube.

Dengan tangan terborgol dan mengenakan kaos tahanan Kejaksaan Negeri Batam, keenamnya berjalan beriringan mengikuti arahan petugas pengawal.

Saat bersamaan keluar dari sel tahanan sementara, salah satu terdakwa yaitu Fandi Ramadhan menyampaikan dengan suara lantang.

"Aku tersesat di negeriku, tapi negara tidak mampu," ujar Fandi. 

Kalimat itu terdengar jelas di lorong pengadilan, menarik perhatian keluarga yang telah menunggu sejak pagi.

Saat hendak memasuki ruang sidang, pandangan pria dengan kaos tahanan nomor 58 itu terhenti. 

Di sisi kiri lorong, seorang perempuan lanjut usia (lansia) duduk di kursi roda. 

Dialah Siti Khodijah (66), neneknya yang datang jauh dari Medan. Mata Fandi langsung berkaca-kaca. Petugas memberi waktu sejenak. 

Fandi menghampiri dan memeluk sang nenek yang telah menempuh perjalanan panjang demi melihat cucunya.

Tangis keduanya pecah di depan ruang sidang. Siti Khodijah tak henti mengusap punggung cucunya. 

Sementara Fandi menunduk, memeluk erat perempuan yang selama ini disebutnya sebagai sosok yang membesarkannya.

Beberapa keluarga lain turut menangis menyaksikan momen tersebut. 

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved