Selasa, 21 April 2026

SIDANG 2 TON SABU DI BATAM

Anak Pertama yang Memikul Harapan, Fandi Menangis Sesegukan Mohon Dibebaskan ke Majelis Hakim

Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri Batam mendadak hening saat Fandi Ramadhan berdiri dari kursinya, Senin (23/2/2026).

|
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Eko Setiawan

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri Batam mendadak hening saat Fandi Ramadhan berdiri dari kursinya, Senin (23/2/2026).

Terdakwa kasus dugaan penyelundupan hampir dua ton sabu itu menggenggam empat lembar kertas yang telah ia tulis sendiri. 

Anak sulung dari 6 bersaudara itu sebelumnya dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum.

Dalam sidang, dibalik punggung pria berkaos tahanan kejaksaan nomor 58, tangannya tampak bergetar dan suaranya parau.

Pria 25 tahun itu kemudian mulai membacakan nota pembelaannya di hadapan majelis hakim. Satu per satu kalimat keluar dengan seksama.

"Saya tidak ada motif ataupun kegiatan ilegal seperti halnya dalam menyimpan narkotika," ujar Fandi dalam persidangan.

Ia menegaskan tidak pernah terlibat perkara hukum sebelumnya. Fandi juga membantah tudingan menerima imbalan terkait perkara tersebut.

"Saya tidak pernah menerima apa pun, selain pinjaman ABK," katanya, merujuk pada uang yang sebelumnya disebut sebagai bagian dari peran dalam pengangkutan sabu.

Beberapa kali ia berhenti sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimat berikutnya.

Sebagai anak pertama di keluarganya, Fandi mengaku memikul harapan besar dari kedua orang tuanya.

"Sebagai anak pertama, besar harapan kedua orang tua saya terhadap saya, begitu juga adik-adik saya," ungkapnya.

Dengan suara yang semakin bergetar, ia bersumpah tidak mengetahui muatan kapal yang disebut berisi narkotika.

Baca juga: Sosok Fandi Ramadhan Terdakwa 2 Ton Sabu, Mengaku Tak Tahu Apa-apa, Kini Kubur Mimpi Jadi Pelaut

"Demi Allah saya tidak tahu benda haram ini. Lebih baik saya lapar daripada masuk lingkaran hitam," ucapnya.

Ia menyebut perjuangan orangtua serta harga diri dan keluarganya lebih berharga daripada apa pun.

"Karena harga diri dan keluarga saya lebih besar dari apa pun, saya tidak sanggup mengkhianati dan melakukan hal-hal keji terhadap orang tua saya," katanya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved