Selasa, 5 Mei 2026

SIDANG PEMBUNUHAN DWI PUTRI

Penyesalan Papi Tama Usai Kematian Dwi Putri di Batam, Anak Terus Tanya ‘Mama di Mana?’

Bergulirnya sidang kasus kematian Dwi Putri Apriliandini di Pengadilan Negeri Batam, satu per satu cerita dari para terdakwa mulai terungkap

Tayang:
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Dewi Haryati
Tribun Batam/Ucik Suwaibah
SIDANG DI PN BATAM - Terdakwa Putri Angelina alias Papi Tama (pakai penutup tangan warna krem) jelang sidang di PN Batam pada Senin (4/5/2026). Ia mengaku menyesal terkait kematian Dwi Putri Apriliandini 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Sidang kasus kematian Dwi Putri Apriliandini bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

 Satu per satu cerita dari para terdakwa mulai terungkap, termasuk dari Putri Angelina alias Papi Tama.

Perempuan 23 tahun itu kini duduk sebagai terdakwa dalam perkara yang menewaskan seorang calon pemandu lagu asal Lampung pada akhir November 2025 lalu di kawasan Jodoh Permai, Batu Ampar.

Saat ditemui sebelum sidang, ibu satu anak itu tampil berbeda dengan balutan kerudung hitam. 

Raut wajahnya tampak murung, dan sesekali ia mengusap air mata yang tak terbendung.

Dalam perbincangan singkat, ia mengaku sangat menyesali perbuatannya dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi.

"Saya menyesali perbuatan saya, sangat minta maaf," ucapnya dengan suara bergetar, Senin (4/5/2026).

Putri menyebut, apa yang dilakukannya saat itu bukan sepenuhnya atas keinginannya sendiri. 

Ia mengaku berada dalam tekanan dan rasa takut terhadap terdakwa utama.

"Saya tidak akan melakukan itu kalau tidak diperintahkan sama Wilson. Saya takut dipukul, kalau kami tidak melakukan, kami yang dipukul," katanya.

Di balik kasus yang kini menjeratnya, Putri menyimpan kisah lain sebagai seorang ibu tunggal yang berjuang membesarkan anak.

Anaknya yang akan menginjak usia enam tahun menjadi alasan utama ia bekerja hingga akhirnya bekerja dengan MK Managemen.

"Ya, saya sudah punya anak satu, anak saya tahun ini mau 6 tahun," ungkapnya lirih.

Saat ini, sang anak tinggal bersama keluarga. Kakaknya sesekali datang menjenguk dan membawa kabar tentang anak tersebut.

Ia mengaku hatinya hancur setiap mendengar cerita bahwa anaknya terus menanyakan keberadaannya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved