Senin, 1 Juni 2026

PERSPEKTIF

Pancasila dan Masa Depan yang Kita Pilih 

Pancasila sering kali hadir dalam ruang-ruang formal sebagai simbol kenegaraan. Kekuatan Pancasila sebenarnya tidak terletak pada simbol

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
TribunBatam.id/Istimewa
Linayati Lestari Akademisi Universitas Riau Kepulauan   

Oleh: Linayati Lestari Akademisi Universitas Riau Kepulauan  


TRIBUNBATAM.id - Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, perubahan sosial yang berlangsung cepat, dan dinamika politik yang terus bergerak, bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan digital telah membuka ruang baru bagi partisipasi masyarakat. Namun pada saat yang sama juga menghadirkan berbagai persoalan, mulai dari penyebaran hoaks, polarisasi sosial, intoleransi, hingga menurunnya kualitas dialog publik. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan yang patut diajukan bukanlah apakah Pancasila masih relevan, melainkan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat terus dihadirkan sebagai panduan dalam menghadapi perubahan zaman.

Pancasila sering kali hadir dalam ruang-ruang formal sebagai simbol kenegaraan. Namun sesungguhnya, kekuatan Pancasila tidak terletak pada simbol atau seremoninya, melainkan pada kemampuannya menjadi pedoman etika dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat menghadapi perbedaan pandangan politik, ketika media sosial dipenuhi perdebatan yang menguras energi kebangsaan, atau ketika kepentingan kelompok lebih dominan daripada kepentingan bersama, maka sesungguhnya yang sedang diuji adalah implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. 

Sosiolog Anthony Giddens melalui teori modernitas menjelaskan bahwa perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat sering kali menciptakan ketidakpastian dan kegamangan nilai dalam masyarakat. Fenomena tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan saat ini. Teknologi berkembang luar biasa, tetapi tidak selalu diikuti dengan kematangan etika. Informasi bergerak dalam hitungan detik, tetapi tidak semua informasi membawa kebenaran. Dalam kondisi seperti itu, Pancasila menjadi penting sebagai jangkar moral yang menjaga agar arah perubahan tetap berorientasi pada kemanusiaan, persatuan, dan keadilan. 

Di sisi lain, Robert Putnam melalui teori modal sosial menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan, solidaritas, dan kerja sama antarwarganya. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah lama hidup dalam Pancasila. Gotong royong, musyawarah, toleransi, dan kepedulian sosial merupakan modal sosial yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia sejak dahulu. Tantangannya hari ini adalah bagaimana menjaga modal sosial tersebut agar tidak terkikis oleh individualisme, fanatisme kelompok, maupun kontestasi politik yang berlebihan. 

Pancasila juga relevan dalam menjawab tantangan tata kelola pemerintahan modern. Konsep collaborative governance yang dikembangkan oleh Chris Ansell dan Alison Gash menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dunia usaha, dan media dalam menyelesaikan persoalan publik. Menariknya, semangat kolaboratif tersebut sejalan dengan nilai musyawarah dan gotong royong yang terkandung dalam Pancasila. Artinya, berbagai konsep tata kelola modern yang berkembang secara global justru menemukan relevansinya dalam nilai-nilai dasar yang telah lama dimiliki bangsa Indonesia. 

Momentum Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Kemajuan yang sesungguhnya juga ditentukan oleh kemampuan bangsa menjaga persatuan, menjunjung keadilan, menghormati keberagaman, dan memastikan bahwa tidak ada warga negara yang tertinggal dalam proses pembangunan.

Bagi generasi muda, Pancasila perlu dipahami dengan cara yang lebih kontekstual dan dekat dengan realitas kehidupan mereka. Mengamalkan Pancasila hari ini dapat dimulai dari halhal sederhana, seperti: menghargai perbedaan pendapat di ruang digital, bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, menolak ujaran kebencian, aktif dalam kegiatan sosial, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan dan kemanusiaan. Indonesia memiliki modal besar berupa keberagaman, semangat gotong royong, dan kekayaan budaya yang tidak dimiliki banyak negara lain. Jika modal tersebut mampu dikelola dengan baik melalui nilai-nilai Pancasila, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang maju, tetapi juga bangsa yang dihormati karena kemampuannya menjaga harmoni di tengah perbedaan. 

Ke depan, harapan besar bagi Indonesia adalah terwujudnya negara yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara sosial, matang secara demokratis, dan berkarakter secara moral. Pancasila harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan publik, praktik demokrasi, sistem pendidikan, dan budaya digital yang berkembang di masyarakat. Nilai-nilai Pancasila perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang inklusif, pelayanan publik yang berkeadilan, serta pembangunan yang memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Pada akhirnya, relevansi Pancasila tidak ditentukan oleh seberapa sering ia diperingati, melainkan oleh seberapa jauh nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah dunia yang terus berubah, Pancasila tetap menjadi kompas yang menunjukkan arah perjalanan bangsa. Sebab masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan kemajuan, tetapi juga membutuhkan nilai yang mampu menjaga kemajuan tersebut tetap berpihak pada kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. 

Selamat Hari Lahir Pancasila

Mari menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai cara berpikir, cara bersikap, dan cara membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, maju, dan bermartabat. 

*Assoc. Prof. Linayati Lestari, Ph.D (Akademisi dan Alumni Taplai Lemhannas RI Tahun 2019)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved