HARGA BBM NONSUBSIDI DI BATAM MELEJIT
Pertamax Naik Jadi Rp15.500 di Batam, Driver Ojol Keluhkan Biaya Operasional Membengkak
Kenaikan BBM nonsubsidi Pertamax jadi Rp15.500 per liter di Batam, mulai dirasakan dampaknya oleh driver ojol di Batam. Biaya operasional membengkak
Penulis: Pertanian Sitanggang | Editor: Dewi Haryati
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di Batam membebani biaya operasional pengemudi ojek daring
- Harga Pertamax RON 92 naik menjadi Rp15.500 per liter dan RON 98 menjadi Rp19.100 per liter
- Pengemudi mengeluhkan antrean Pertalite yang semakin panjang akibat peralihan pengguna Pertamax
- Aliansi pengemudi mendesak implementasi pembatasan potongan aplikasi maksimal 8 persen sesuai arahan Presiden
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026, mulai dirasakan dampaknya oleh para pengemudi ojek online (ojol) di Batam.
Lonjakan harga yang cukup tajam membuat biaya operasional harian meningkat, sementara tarif layanan yang diterima pengemudi belum mengalami penyesuaian.
PT Pertamina Patra Niaga diketahui menaikkan harga Pertamax RON 92 dari Rp11.750 per liter menjadi Rp15.500 per liter untuk wilayah Batam.
Sementara Pertamax RON 98 naik dari Rp13.000 menjadi Rp19.100 per liter. Kenaikan tersebut menjadi beban tambahan bagi para pengemudi yang selama ini mengandalkan BBM nonsubsidi untuk menjaga performa kendaraan.
Ketua Aliansi Driver Online Batam (ADOB), Djafri Rajab, mengatakan kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap modal awal yang harus dikeluarkan pengemudi setiap hari.
"Kalau sebelumnya teman-teman yang biasa mengisi Pertamax mengeluarkan biaya sekitar Rp24 ribu untuk dua liter, sekarang harus menyiapkan lebih dari Rp30 ribu. Modal awal untuk bekerja jelas bertambah, sementara tarif masih tetap," ujarnya.
Menurut Djafri, banyak pengemudi memilih Pertamax bukan tanpa alasan. Selain dianggap lebih baik untuk menjaga performa mesin dalam jangka panjang, penggunaan BBM dengan oktan lebih tinggi juga dinilai lebih efisien untuk kendaraan yang digunakan bekerja setiap hari.
Djafri menambahkan, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi ini akan semakin terasa bagi pengemudi mobil, terutama yang menggunakan kendaraan di luar kategori Low Cost Green Car (LCGC) dan tidak memenuhi syarat untuk memperoleh BBM subsidi.
"Kalau mobil yang tidak bisa mengakses Pertalite karena tidak memiliki barcode, otomatis harus tetap menggunakan Pertamax. Dulu isi 10 liter sekitar Rp120 ribu, sekarang bisa mencapai Rp160 ribu. Beban operasional naik, tapi pendapatan tetap," katanya.
Selain kenaikan biaya bahan bakar, Djafri juga menyoroti potensi bertambahnya waktu operasional akibat antrean panjang di sejumlah SPBU.
Banyak pengguna Pertamax kini beralih ke Pertalite, sehingga antrean kendaraan untuk BBM subsidi semakin mengular.
"Kalau punya barcode masih bisa antre Pertalite. Tapi bagi yang tidak memenuhi syarat, tetap harus membeli Pertamax dengan harga yang jauh lebih mahal," ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, para pengemudi berharap pemerintah segera merealisasikan regulasi yang mengatur potongan aplikasi transportasi online, sebagaimana yang sempat disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Djafri, implementasi aturan pembatasan potongan aplikasi menjadi maksimal 8 persen dapat membantu meningkatkan pendapatan pengemudi tanpa harus membebani masyarakat dengan kenaikan tarif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Harga-BBM-papan-SPBU.jpg)