Krisis Air Bersih di Lingga
Hadapi Krisis Air, Warga Lingga Ini Bolak-balik Bawa Jeriken Cari Air, Sumur Jadi Andalan
Warga Kampung Senempek, Desa Limbung, Kecamatan Lingga Utara, Lingga, Kepri andalkan sumur hadapi krisis air yang tengah terjadi
Penulis: Febriyuanda | Editor: Dewi Haryati
Ringkasan Berita:
- Warga Kampung Senempek, Desa Limbung, Lingga Utara alami krisis air bersih akibat kemarau panjang
- Debit air penampungan menurun, warga andalkan sumur kampung yang kualitas airnya kurang baik, bahkan sebagian terpaksa membeli air Rp20 ribu per 200 liter
- Selain faktor kemarau, distribusi air terkendala kerusakan jaringan pipa lama yang diduga terdampak kebakaran lahan
- Warga berharap Pemkab Lingga segera memberikan bantuan air bersih dan solusi jangka panjang
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Terik matahari terasa menyengat sejak pagi di Kampung Senempek, Desa Limbung, Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Di tengah panas yang berkepanjangan, aktivitas warga tak hanya disibukkan rutinitas harian, tetapi juga perjuangan mencari air bersih yang kini semakin sulit didapat akibat kemarau panjang.
Debit air di bak penampungan utama terus menurun, membuat sebagian warga harus mengandalkan sumur-sumur kampung yang kualitas airnya terbatas.
Pemandangan warga membawa jeriken menggunakan sepeda motor maupun gerobak menuju sumur terdekat menjadi hal yang lumrah dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi kekeringan ini sebenarnya bukan persoalan baru.
Setiap musim kemarau datang, warga Kampung Senempek kerap menghadapi krisis air bersih yang berdampak langsung pada kebutuhan dasar sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci hingga konsumsi air minum.
Mahmur, salah seorang warga, mengaku kesulitan air mulai terasa sejak hujan deras jarang turun.
Ia menyebut, warga kini hanya bisa mengandalkan perigi atau sumur yang ada di kampung, meski kualitas airnya kurang baik.
“Kami sekarang susah air, karena tidak ada hujan lebat turun. Karena sekarang musim kemarau, kami ambil air di perigi-perigi (sumur-red) yang ada di Kampung Senempek. Walaupun airnya agak bening, tapi sedikit berbau,” ujar Mahmur, Selasa (10/2/2026).
Keterbatasan air tersebut membuat warga harus bekerja ekstra, bahkan hingga malam hari, demi memastikan kebutuhan air rumah tangga tetap terpenuhi.
Tak jarang, air sumur hanya digunakan untuk mandi dan mencuci, sementara untuk minum dan memasak warga harus mencari alternatif lain.
Mahmur berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi yang dialami warganya, terutama penyediaan air bersih saat musim kemarau.
“Harapan kami ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Lingga untuk masalah air bersih di kampung kami. Karena setiap kemarau datang, kami sangat kesulitan mendapatkan air bersih,” harapnya.
Warga lainnya, Ata, menambahkan bahwa sebagian masyarakat terpaksa membeli air bersih karena air sumur berbau dan kurang layak konsumsi.
| Dikira Korban Kecelakaan Tunggal, Ternyata 2 Jenazah Remaja yang Ditemukan di Parit Tewas Dibunuh |
|
|---|
| Kantor Polisi Diserbu Driver Ojol Usai Temannya Dianiaya Polisi, Pelaku Cemburu Kekasihnya Dibonceng |
|
|---|
| Gadis Remaja Jadi Korban Asusila Oleh Pria yang Baru Dikenalnya Lewat Instagram |
|
|---|
| Karambit Jadi Senjata Penusukan di Nagoya Batam, Korban Jalani Belasan Jahitan |
|
|---|
| Wagub Nyanyang Buka Karate Open 2026 di Batam, Karateka Tiga Negara Ambil Bagian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Kemarau-Kampung-Senempek-Lingga-Kepri.jpg)