Rabu, 3 Juni 2026

Pelantar di Serasan Natuna Viral, Jadi Akses Utama Warga, Kondisinya sudah Lama Rusak

Kondisi jalan pelantar kayu yang sempit dan nyaris roboh di Kecamatan Serasan, Natuna, menyita perhatian publik setelah sebuah video warga viral

Tayang:
Penulis: Birri Fikrudin | Editor: Dewi Haryati
Tribun Batam/Dok. Warga
PELANTAR RUSAK - Tangkap layar video warga yang tengah melintasi pelantar rusak dan tak layak di RT 01 RW 01, Kampung Air Raya, Kelurahan Serasan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). 

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Kondisi jalan pelantar kayu yang sempit dan nyaris roboh di Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menyita perhatian publik setelah sebuah video warga viral di media sosial.

Dalam video tersebut, sejumlah warga tampak berjibaku mengangkat seorang warga yang tengah sakit menggunakan tandu, melewati pelantar kayu yang berdiri di atas perairan pesisir Kampung Air Raya, Kelurahan Serasan.

Langkah demi langkah mereka terlihat sangat hati-hati.

Mereka menggenggam erat tandu yang dibawa secara perlahan, menyusuri jalur sempit yang hanya berupa susunan papan dan kayu.

Pemandangan itu memantik perhatian banyak orang. Tidak sedikit yang mempertanyakan kondisi infrastruktur dasar yang masih harus dihadapi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia tersebut.

Pelantar yang viral itu tepatnya berada di Gang Nelayan, RT 01 RW 01, Kampung Air Raya, Kelurahan Serasan.

Bagi warga setempat, pelantar tersebut bukan sekadar jalan penghubung.

Akses itu menjadi satu-satunya jalur keluar masuk menuju rumah-rumah warga yang berdiri di kawasan pesisir.

Namun kondisinya kini sangat memprihatinkan dan membahayakan.

Pada beberapa bagian, papan-papan kayu terlihat lapuk dan mulai rusak, dengan jalurnya yang sempit hanya cukup dilalui satu orang.

Ketua RT 01 Kampung Air Raya, Padil, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun.

Pelantar yang digunakan warga memiliki panjang total sekitar 300 meter.

Sebagian sepanjang kurang lebih 200 meter telah dibangun permanen beberapa tahun lalu, namun sisanya belum terealisasi dan kini mengalami kerusakan parah.

"Jalannya sempit, kalau pas ada yang sakit, tidak banyak orang yang bisa membantu mengangkat tandu secara bersamaan," ujar Padil.

Ia menjelaskan, pelantar tersebut dibangun sekitar tahun 2007 dan kini usianya telah mencapai kurang lebih 19 tahun.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved