Selasa, 9 Juni 2026

Saya Pengen Jadi Ustaz, Santri yang Dibakar Senior Tetap Mau Sekolah

Ahmad Devan Ramadhan tetap ingin sekolah dan menjadi ustaz. Ia menjadi korban pembakaran di pondok pesantren

Tayang:
Tribunbatam.id
KORBAN LUKA BAKAR - SAL (13), santri di salah satu pondok pesantren di Lombok Tengah, menutupi bagian tubuhnya yang mengalami luka bakar. Keluarga menyebut korban menjadi dugaan pembakaran oleh kakak kelasnya pada November 2025.  

TRIBUNBATAM.id - “Saya masih mau sekolah, saya pengen jadi ustaz.” Kalimat itu mengalir dari bibir Ahmad Devan Ramadhan. Meski mengalami perundungan di pondok pesantren, Devin tetap ingin menjadi ustaz.

Bocah berusia 13 tahun asal Lombok Tengah ini berangkat ke pondok pesantren untuk mengejar mimpi menuntut ilmu.

Namun, bukan kitab suci yang menemaninya hari ini, melainkan ingatan mengerikan dari  tragedi dugaan perundungan sadis yang nyaris merenggut nyawanya dalam kobaran api.

Ia merupakan korban kedua dari tragedi dugaan bullying berujung pembakaran di salah satu pondok pesantren (Ponpes).

Saat ditemui, bocah yang berasal dari Dusun Sintung, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Barukliang Utara ini memendam trauma mendalam atas tragedi pada November 2025 tersebut.

Devin sapaan akrabnya, seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar, kini masih berjuang untuk pemulihan.

Ditemui di rumahnya, Devin menceritakan, sebelum insiden maut itu terjadi, ia kerap menjadi sasaran kekerasan oleh rekan-rekannya di lingkungan pondok.

Ia mengakui pernah dipermalukan oleh seorang santri berinisial R dengan cara ditelanjangi.

Namun, penderitaannya tidak berhenti sampai di situ. Devin juga mengaku sering dipukul oleh santri lain berinisial Y, yang diketahui merupakan anak dari salah satu pimpinan pondok pesantren tersebut.

Ketika ditanya mengapa ia tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya kepada pengasuh pondok, Devin tertunduk lesu. 

“Enggak berani karena anaknya abah (ketua Ponpes),” ucap Devin, Sabtu (6/6/2026).

Rasa tidak betah itu sebenarnya sudah lama ia rasakan, bahkan ia sempat berniat untuk keluar dari pondok tersebut.

Tragedi tersebut terjadi saat ia berada di sebuah ruangan untuk memperbaiki kipas angin, bukan untuk bermain api. Dalam kejadian tersebut, Devin terjebak dalam api hingga tak sadarkan diri. 

“Enggak tahu. Saya hilang kesadaran, pingsan langsung di sana. Bangun-bangun sudah di luar ruangan,” kenang Devin.

Luka bakar yang dideritanya sangat parah hingga menutupi area wajah. Meski tubuhnya penuh luka dan hatinya menyimpan trauma mendalam, semangat Devin untuk belajar tidak padam. 

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved