Luka Bosnia Berdarah Lagi: Saya Menghitung 50 Mayat, Tak Kuat, Saya Tak Tahu Berapa Jumlahnya

Mayat ribuan muslim Bosnia itu ditemukan dua tahun setelah perang usai (1997), dikubur di sebuah stadion olahraga di pinggiran kota tersebut.

Luka Bosnia Berdarah Lagi: Saya Menghitung 50 Mayat, Tak Kuat, Saya Tak Tahu Berapa Jumlahnya
AFP/Getty Image
Seorang investigator PBB memeriksa kuburan massal korban genosida di sebuah stadion di Cerska, sebiah desa dekat Srebrenica, Juli 1995. 

TRIBUNBATAM.id, SREBRENICA -Sidang vonis mantan komandan perang Serbia Ratko Mladic membuat kisah tragis perang Serbia-Bosnia tahun 1990-1995 seakan muncul kiembali.

Mladic yang menjadi salah satu aktor utama pemusnahan etnis muslim Bosnia-Herzegovina divonis 74 tahun penjara oleh pengadilan internasional PBB di Den Haag, Belanda.

Vonis Mladic disaksikan melalui siaran langsung televisi lokal oleh keluarga korban perang dan genosida di Srebrenica, dekat ibukota Bosnia Sarajevo, Rabu (22/11/2017).

Baca: Dihukum Seumur Hidup, Jenderal Pembunuh Ribuan Muslim Bosnia Ini Menceracau di Sidang

Baca: Penetapan Isdianto Sebagai Calon Wagub Kepri Diwarnai Pro dan Kontra di DPRD

Baca: Inilah iPhone X Termahal di Dunia! Harganya Setara Rumah Mewah di Batam! Ini Istimewanya!

Berbagai ekspresi muncul terhadap persidangan itu.

Ada yang menanggap pengadilan terlalu lambat karena mereka sudah menunggu hingga enam tahun lebih sejak Mladic ditangkap di persembunyiannya, di Lazarevo, dekat Zrenjanin di wilayah Banat, Provinsi Vojvodina, Serbia, pada tanggal 26 Mei 2011.

Ratko Mladic, jenderal Serbia yang melakukan pembantaian muslim Bosnia terlihat santai menghadapi vonis pengadilan internasional PBB di Den Haag, Rabu (22/11/2017).

"Semua sudah terlambat. Kami bahkan menganggap Mladic sudah lama mati," kata Fikret Bacic, seorang warga di desa Bosnia barat laut, Zecovi.

Ia mengatakan tidak peduli apakah Mladic dinyatakan bersalah atau tidak meskipun istri, ibu dan anak-anaknya menjadi korban pembantaian massal di Bosnia.

Halaman
1234
Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved