BINTAN TERKINI

Ancaman Buaya Jadi Ketakutan Sendiri saat ke Sekolah, Warga Suku Laut Ingin Buat Jembatan

Selama ini, penghubung kampung dengan ibukota kelurahan Kawal menggunakan transportasi sampan

Ancaman Buaya Jadi Ketakutan Sendiri saat ke Sekolah, Warga Suku Laut Ingin Buat Jembatan
TRIBUNBATAM/AMINNUDIN
warga kampung suku laut, Bintan sedang menggunakan sampan dayung sebagai transportasi laut 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN - Warga Kampung Suku Laut Kawal, Kecamatan Gunung Kijang merencanakan bakal membangun jembatan sendiri yang terbuat dari kayu bakau di sekitar laut untuk menghubungkan kampung mereka dengan ibukota kecamatan.

Selama ini, penghubung kampung dengan ibukota kelurahan Kawal menggunakan transportasi sampan. Beberapa anak-anak di kampung itu kadang berenang ke kampung mereka.

Johanes Jamil (23), warga kampung Suku Laut mengatakan, sejak kecil ia bersama temannya selalu menggunakan sampan ke sekolah pulang pergi. Kadang juga menyeberang ke kampung dengan cara berenang. Dia salah satu anak kampung suku laut yang beruntung bisa menjejakan kaki sampai level perguruan tinggi.

"Saya dari SD sampai SMA harus menggunakan sampan. Kadang juga berenang ke kampung pulang pergi sekolah," kata dia.

Baca: Oktober 2018 Perlengkapan Sekolah Gratis Dibagikan. Berikut Penjelasan Disdik Bintan

Baca: Napi Lapas Bintan Pakai Kupon Ambil Jatah Kurban

Baca: Jumlah Pemilih di Bintan Sebanyak 98 Ribu, DPT Bintan Timur Terbesar

Jamil mengatakan, kondisi keterbatasan akses tak membuatnya patah asa. Ia bahkan sudah mempersembahkan sejumlah medali untuk Bintan dalam setiap even olahraga. Baik Pekan Olahraga Daerah (Porda) maupun Pekan Olahraga Nasional (PON). Jamil berencana melanjutkan kuliah S2 di Jawa.

Tapi, ada satu harapan dia, kampungnya dibangunkan jembatan permanen. Jembatan akan mempermudah akses pulang pergi sekolah anak anak Kampung Suku laut dari pulang pergi ibukota Kelurahan Kawal.

"Dulu anak di kampung sana tak begitu peduli sama sekolah. Dan sekarang banyak yang ingin menempu pendidikan, di SD 006 Kawal. Tapi kendalanya ada pada akses, mereka tidak punya akses untuk ke darat. Aksesnya itu paling tidak berenang atau pun sampan," kata dia.

Di musim angin selatan saat ini, kondisi gelombang laut berubah-ubah, kondisi riskan. Tak lama lagi akan masuk angin utara yang ditandai dengan angin kuat. Riskan.

Selain persoalan angin dan gelombang, Jamil mengatakan, belum lama ini sejumlah anak di kampung suku laut menemukan adanya buaya.

"Beberapa hari ini ada yang menemukan buaya di laut, memprihatinkan," kata Jamil.

Dengan kondisi itu, Jamil mengatakan, pembangunan jembatan penghubung dari Kawal ke Kampung Suku Laut adalah sangat mendesak. Menurutnya, keberadaan jembatan penghubung tak hanya untuk mempermudah akses pendidikan, tapi untuk kebutuhan lainnya. Misalnya akes untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi warga. (min)

Penulis: Aminnudin
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help