Kisah Tsunami Aceh 2014 - Dikira Sudah Meninggal, Noverizal Tak Berdaya Dimasukkan Kantong Mayat
Ada sejumlah kisah korban selamat tsunami yang diabadikan dalam buku berjudul Tsunami dan Kisah Mereka. Satu di antaranya kisah Noverizal berikut ini
TRIBUNBATAM.id - Hari ini, 26 Desember 2018, tepat 14 tahun lalu terjadi bencana tsunami di Aceh.
Ribuan orang meninggal dan kehilangan tempat tinggal karena bencana ini.
Ada banyak kisah yang terjadi saat bencana tsunami ini terjadi.
Kisah-kisah itu tertuang dalam sebuah buku berjudul "Tsunami dan Kisah Mereka" yang diterbitkan Badan Arsip Provinsi Aceh tahun 2005.
Satu di antara korban selamat tsunami Aceh
Baca: Soal Peleburan BP Batam dan Pemko, Fahri Hamzah : Jokowi Jangan Buat Keputusan Kontroversial
Baca: Letusan Menggelegar & Kilat Menakutkan, Warga Sebesi Ungkap Kondisi Terkini Gunung Anak Krakatau
Baca: Sempat Adu Mulut Diakhiri 8 Kali Tembakan. Simak 4 Fakta Kasus Penembakan Perwira TNI di Jatinegara
Baca: Jony Disebut Sakit Diare dan Meninggal Dalam Perjalanan ke Rumah Sakit
Simak Kisah Noverizal Berikut Ini:
PAGI itu saya sedang membersihkan perkarangan rumah, tiba-tiba saja terjadi gempa yang sangat dahsyat.
Setelah gempa herhenti saya dan semua anggota keluarga, ibu, dua orang kakak dan tiga orang keponakan yang masih kecil, masuk kembali ke rumah.
Di dalam rumah terlihat pesawat televisi, kulkas dan lemari telah jatuh ke lantai.
Saya keluar, dan menjemput keponakan saya di depan rumah tempat permainan play station.
Setelah itu, saya ke rumah mertua kakak. Ketika sampai di sana ada orang yang patah kakinya, tertimpa lemari yang terbalik karena gempa. Lalu kami menolongnya.
Kami membawanya ke rumah sakit Permata Hati, Blang Oi. Kemudian saya kembali lagi ke rumah mertua kakak. Saya mengajak keponakan saya pulang.
Mereka tidak mau, lalu saya pergi ke warung kopi dan duduk-duduk di sana bersama kawan-kawan sambil membicarakan gempa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Sedang kami duduk-duduk, tiba-tiba saya melihat orang-orang berlarian dan berteriak, "Air naik..., air naik...!"
Mulanya saya tidak percaya. Makin lama makin ramai orang yang berlarian.