Sabtu, 18 April 2026

Ekspedisi Uang Lusuh di Pulau Terluar Kepri

Warga Tarempa Kekeringan Minyak di Atas Ladang Minyak

Keliling Kota Tarempa Hanya Butuh 10 Menit

"Kami membutuhkan SBPU di Tarempa. Jika ada SPBU, maka akan berdampak pada turunnya harga jual kebutuhan pokok di masyarakat. Seperti contoh, harga satu botol bensin, dalam di minggu ke tiga Juli mencapai Rp 15 Ribu. Kondisi tinggi ini makin diperparah, dengan harga konsumtif masyarakat yang juga serba mahal. Sebagai contoh, harga minuman teh es mencapai Rp 5 Ribu per gelas, sedangkan makan dengan lauk secukupnya, bisa mencapai Rp 20 ribu. Harga ini sangat beda jauh dengan di Kota Batam dan Tanjungpinang,"ujar Epi, warga Tarempa yang baru pindah tugas dari Batam.

Anehnya, tingginya harga makan dan minum, tidak menyurutkan daya beli masyarakat. Ali, warga Tarempa menjelaskan usaha masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dengan hanya bernelayan. Selain itu, warga memiliki kebun kelapa yang mampu memproduksi berton-ton kopra yang dijual ke Ranai Natuna.

"Semua serba mahal di Tarempa. Ini semua dipengaruhi kekurangan BBM hingga mempengaruhi harga kebutuhan lainnya. Kalau kami ke laut, butuh solar, sedangkan harganya tinggi. Dampaknya, hasil tangkapan juga dijual tinggi,"ujar Ali usai menghadiri acara Sosialisasi yang digelar BI.

Untuk dampak ketidakstabilan pasokan BBM ini, berdampak pada upaya investasi di daerah Anambas. Kita terbuka dan membidik investasi pengolahan ikan di Tarempa. Tapi, kondisi kekurangan listrik sangat mempengaruhi. Oleh itu, bapak bupati terus mempromosikan dan potensi Anambas kesejumlah kota di Indonesia.

"Untuk PAD dihasilkan dari pajak migas, dengan angka APBD saat Anambas tahun 2011 dikucurkan berkisar hampir Rp 1,4 Triliun. Penyaluran APBD untuk pengembangan kecamatan dan juga pengembangan sarana di kota Anambas sendiri,"ujar Abdul Hari mengakhiri.

Transaksi Tukar Rp1,9 Miliar

Sementara itu, hasil operasi layanan kas, tim BI berhasil mengumpulkan uang lusuh, rusak dan tidak laku dari masyarakat dan tiga bank mencapai Rp 1,9 miliar. Nilai tukar hampir Rp 1 miliar lebih, terserap oleh tiga bank yang ikut serta dalam kegiatan. Tingginya antusias masyarakat  Tarempa akan penukaran rupiah karena persedian uang baru di sejumlah bank tidak lagi terpenuhi.

" Kunjungan di Pulau kedua di Kecamatan Tarempa, kita cukup kewalahan  melayani transaksi penukaran uang dari masyarakat Tarempa. Temuan kami, warga yang menukar uang adalah dari kalangan pedangan keliling hingga pegawai negeri. Hampir empat kotak uang rupiah tunai berbagai pecahan terpenuhi. Kondisi ini jelas kalau, kehadiran kami di Tarempa sudah diprediksi akan kebutuhan uang rupiah cetakan baru. Belum lagi, uang dengan kondisi rusak yang tidak laku pecahan Rp 100 sampai Rp 10000 lama masih ditemui, dan jumlahnya mencapai jutaan rupiah,"ujar T Faisal, Koordinator pelaksana Kegiatan dari Direktorat Pengedaran Uang BI Jakarta, Rabu (20/7) usai kegiatan.

Dijelaskan Faisal,  untuk warga yang dari pedangan pasar dan pegawai pemerintahan, rata-rata menukarkan uang juga berkaitan persiapan menghadapi bulan puasa dan lebaran Idul Fitri. Rata-rata nilai tukar uang perorangan kisaran Rp 500 ribu hingga Rp jutaan rupiah.  "Kita sengaja menukar dan mengambil uang dari bank yang ada di Tarempa, agar proses kerja lebih cepat. Jika kita layani satu persatu butuh waktu berhari-hari, dan tentu rencana perjalanan kita menjadi terundur,"ujar Faisal yang mewakili BI Jakarta.(dedy suwadha/bersambung)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved