Sabtu, 13 Juni 2026

Idul Adha 1432 H

Ternyata Ibadah Kita Belum Apa-apa

Renungan Idul Adha 10 Dzulhijah 1432 Hijriah

Tayang:

Renungan Idul Adha 10 Dzulhijah 1432 Hijriah
Oleh: Ustaz Muhith Marzuqi SPdi

MEMASUKI bulan Dzulhijjah, seluruh umat Islam di dunia berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang terakhir, ibadah haji. Bisa disebut sebagai rukun yang paling puncak. Saat itu, umat muslim berkumpul di kota Makkah Arab Saudi untuk melaksanakan proses-proses ritual ibadah haji. Diawali dengan wukuf di Arafah hingga thawaf wada’ atau thawaf perpisahan.

Ritual haji menegaskan citra Islam sebagai agama yang egaliter, artinya menempatkan prinsip persamaan sebagai sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Dalam pelaksanaan ibadah itu, umat islam berkumpul dengan menanggalkan segala macam status yang disandangnya.

Mereka tidak memandang status sosial, baik kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, kulit hitam atau kulit putih, semuanya melakukan karena Allah semata.


Pada bulan ini, bulan kurban kita diingatkan pada sebuah kisah tentang keimanan, kesabaran dan ketaatan absolut seorang nabi Ibrahim yang demi perintah Tuhannya yang rela mengorbankan anaknya Ismail.

Di mana saat itu Nabi Ibrahim memperoleh mimpi secara berulang-ulang untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim pun pergi menemui  putranya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah melalui mimpinya.

Semula Nabi Ibrahim khawatir atas jawaban anaknya, tapi Nabi Ismail menjawab: “Ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Betapa terharunya beliau mendengar jawaban dari anaknya yang saleh sehingga makin menambah rasa sayangnya sekaligus menambah kesedihannya karena teringat bahwa beliau akan kehilangan anak yang dikasihinya.

Akhirnya keduanya membulatkan tekad dengan penuh keimanan dan ketaatan untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Parang yang sangat tajam disiapkan lalu mereka berangkat menuju suatu tempat untuk melaksanakan perintah tersebut.

Saat-saat terberat bagi Nabi Ibrahim pun tiba, dengan mengumpulkan segenap keyakinan dan dengan penuh kepasrahan Nabi Ibrahim pun mengayunkan parang ke leher Ismail dan mulai menyembelihnya.

Namun apa yang terjadi, parang yang sangat tajam menjadi tumpul dan tidak mampu melukai leher Ismail. Tidak ada setetes darah mengalir dari leher Ismail. Nabi Ibrahim mengulangi dan tetap saja Ismail tidak terluka sedikitpun. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk tidak meneruskan penyembelihan Ismail, yang kemuidian digantikan Allah dengan seekor hewan sembelihan yang besar.

Sungguh sebuah kisah yang sangat luar biasa yang barangkali tidak akan ada seorang pun dari kita yang sanggup menyamai kepasrahan, ketaatan, dan keimanan absolut  Nabi Ibrahim sehingga kisah ini diabadikan dalam Al Quran yang artinya:

“Dan Ibrahim berkata: ”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia pun menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Ash Shaaffaat: 99-108)

Hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah mereka? Beberapa pelajaran luar biasa yang bisa kita peroleh, namun di sini kita akan coba mempersempit dan mengambil empat poin untuk kita jadikan bahan renungan dalam kehidupan kita. Antara lain rasa keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan solidaritas sosial. Sebab hakikat dan pelajaran dari nabi Ibrahim dan Ismail menjadi suatu rujukan mengapa kita harus berkurban.

Pertama keimanan, dalam kisah tergambar dengan jelas sikap Nabi Ibrahim dan Ismail dalam memahami perintah dari Tuhannya. Keimanan datang dari sebuah keyakinan di mana dalam hal ini Nabi Ibrahim meyakini bahwa perintah yang datang dari Tuhannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak harus dipatuhi olehnya sebagai hambaNya. Namun demikian bukan berarti bahwa Nabi Ibrahim tidak menggunakan akal dan logikanya dalam memahami perintah Allah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
Live
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved