Breaking News:

Idul Adha 1432 H

Ternyata Ibadah Kita Belum Apa-apa

Renungan Idul Adha 10 Dzulhijah 1432 Hijriah

Ternyata Ibadah Kita Belum Apa-apa
Tribun Batam/ Candra P. Pusponegoro
Ustaz Muhith Marzuqi SPdi

Kita hanya bisa mengambil pelajaran bahwa kesabaran itu datang ketika kita memahami kebenaran dari perintah Allah, ketika kita meyakini dan mengimani ketentuan yang datang dari-Nya. Kepatuhan, ketaatan dan kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail bukanlah asal patuh, asal taat, asal pasrah tapi semua itu adalah hasil dari pemahaman atas keyakinan dan keimanan yang mutlak kepada Allah, keyakinan dan keimanan bahwa sesungguhnya segala yang datang dari Allah adalah sebuah kebenaran. Patutlah kisah ini dijadikan cermin bagi kita untuk memahami bagaimana seharusnya sabar itu, sabar bukan sekedar menahan marah, menahan emosi tapi lebih dari itu sebuah kesabaran haruslah datang dari jiwa yang dipenuhi akan keyakinan dan keimanan atas kebenaran yang datang dari Allah.

Ketiga keikhlasan. Sulit memang untuk mengukur kadar keikhlasan kita ketika melakukan sesuatu. Karena sebagai manusia apa yang kita lakukan seringkali berhubungan dengan kepentingan diri kita sendiri dan memang tidak ada sesuatu hal yang bisa dijadikan sebagai tolok ukur keikhlasan amal kita. Namun tidak ada salahnya kalau kita mencoba bercermin dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail untuk sekedar mengambil pelajaran bahwa ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya dan setelah melalui pergolakan batin yang luar biasa. Dan akhirnya beliau memantapkan hati untuk melaksanakan perintah tersebut dengan ikhlas yang dalam hal ini beliau menyadari bahwa Allah yang telah memberinya anugerah keturunan yang sangat didambakannya dan Allah pula yang akan mengambilnya kembali.

Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan hati yang tulus dan merelakan putra tercintanya diminta kembali oleh Sang Penciptanya karena beliau percaya bahwa “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun--Sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nyalah semuanya akan kembali. Harta, kekuasaan, jabatan, hidup dan mati, keturunan dan segala anugerah kenikmatan yang kita rasakan, pada hakikatnya adalah milik Allah dan setiap saat atau kapanpun Allah menghendaki maka Dia berhak untuk mengambilnya kembali.

Pada saat itulah kita diuji apakah kita sanggup merelakan apa yang menurut kita adalah milik kita sendiri untuk diambil kembali oleh pemiliknya yang hakiki. Atau ketika kita memiliki nasib yang kebetulan lebih beruntung dari saudara-saudara yang lain dengan diberi anugerah harta atau rezeki yang lebih baik dari orang lain sanggupkah kita dengan sadar dan rela untuk berbagi kepada sesama tanpa harus berpikir berapa liter keringat kita yang terkuras untuk mencari rezeki, tanpa harus menghitung berapa jauh jarak perjalanan yang kita tempuh, berapa banyak waktu yang digunakan untuk bekerja mencari rezeki, berapa besar pengorbanan kita untuk mencapai kesuksesan.

Di bulan Dzulhijjah ini disunnahkan bagi sebagian dari kita yang mampu untuk mengikhlaskan sebagian dari hasil jerih payahnya  untuk dikorbankan demi berbagi kepada sesama, tidak mudah memang untuk begitu saja memberikan apa yang sudah kita perjuangkan dengan susah payah lantas begitu saja kita korbankan demi orang lain, namun bila kita ingat kembali di bulan ini ribuan tahun yang lalu seorang ayah rela mengorbankan anaknya demi perintah Tuhannya, sungguh apa yang kita korbankan kali ini tidak ada sedikitpun bandingannya dengan keikhlasan berkorbannya Nabi Ibrahim dan Ismail.

Keempat solidaritas social. Di hari Idul Adha dan pada tiga hari berikutnya disunnahkan bagi muslim yang mampu untuk berkurban dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing (domba) atau sapi atau unta. Kemudian daging hasil sembelihan tersebut dibagikan kepada orang lain yang tentunya lebih diutamakan untuk masyarakat sekitar dan kalangan yang kurang mampu. Ini adalah bukti bahwa agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebersamaan, kepedulian terhadap sama dan solidaritas sosial.

Islam mengajarkan pengikutnya untuk berzakat yang termasuk salah satu rukun Islam, Islam juga mempunyai konsep sedekah, wakaf dan juga kurban di mana semua amal ini mempunyai konteks muamalah secara horisontal atau muamalah kepada sesama manusia. Ditengah kondisi masyarakat kita sekarang ini yang sangat terpengaruh oleh budaya liberal yang menimbulkan hasrat konsumerisme dan hedonisme jika kita mau untuk membuka mata kita, maka kita akan melihat ketimpangan yang ada di masyarakat.

Kita akan melihat betapa lebar kesenjangan antara kalangan yang mampu dengan yang tidak mampu, dan mungkin sebagian dari kita ada yang melihat dan tahu adanya ketimpangan dan kesenjangan sosial namun bersikap acuh tidak peduli terhadap keadaan yang terlihat di depan matanya atau mungkin malah merasa bahwa ini adalah sebuah proses alam perwujudan dari teori evolusi di mana yang kuatlah yang akan berada di puncak tangga rantai evolusi. Kita lupa bahwa hidup dan mati, sehat dan sakit, susah dan senang, harta kekayaan dan kekuasaan semua adalah milik Allah semata.

Kita seringkali beranggapan bahwa apa yang kita raih adalah hasil jerih payah sendiri dan melupakan Dia yang Maha Memiliki lah pemilik hakiki dari apa yang kita miliki sekarang ini. Di bulan ini dengan disunnahkan berkurban bagi kita yang mampu, mari kita manfaatkan keagungan hari raya ini dengan mengingat keimanan, keikhlasan, kesabaran dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk berbagi kepada sesama kita.

Sekarang pertanyaan besar harus kita tujukan ke diri kita masing-masing? Seberapa jauh kita sudah menyelami dalamnya hikmah Idul Adha ini? Bagi yang mempunyai rezeki lebih dan melaksanakan kurban, apakah sudah dipahami makna dibalik menyembelih hewan kurban, atau apakah kurban itu hanya sebatas menyembelih kambing atau sapi lalu dibagikan dan sebagian disate kemudian setelah itu selesai.

Halaman
1234
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved