Breaking News:

Idul Adha 1432 H

Ternyata Ibadah Kita Belum Apa-apa

Renungan Idul Adha 10 Dzulhijah 1432 Hijriah

Ternyata Ibadah Kita Belum Apa-apa
Tribun Batam/ Candra P. Pusponegoro
Ustaz Muhith Marzuqi SPdi

“Dan Ibrahim berkata: ”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia pun menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Ash Shaaffaat: 99-108)

Hikmah apa yang bisa kita petik dari kisah mereka? Beberapa pelajaran luar biasa yang bisa kita peroleh, namun di sini kita akan coba mempersempit dan mengambil empat poin untuk kita jadikan bahan renungan dalam kehidupan kita. Antara lain rasa keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan solidaritas sosial. Sebab hakikat dan pelajaran dari nabi Ibrahim dan Ismail menjadi suatu rujukan mengapa kita harus berkurban.

Pertama keimanan, dalam kisah tergambar dengan jelas sikap Nabi Ibrahim dan Ismail dalam memahami perintah dari Tuhannya. Keimanan datang dari sebuah keyakinan di mana dalam hal ini Nabi Ibrahim meyakini bahwa perintah yang datang dari Tuhannya adalah sebuah kebenaran yang mutlak harus dipatuhi olehnya sebagai hambaNya. Namun demikian bukan berarti bahwa Nabi Ibrahim tidak menggunakan akal dan logikanya dalam memahami perintah Allah.

Dapat kita lihat ketika Nabi Ibrahim mendapat mimpi yang memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya, beliau tidak serta merta mengamini dan kemudian tanpa pikir panjang melaksanakan perintah tersebut. Dalam kapasitasnya sebagai seorang nabi  Ibrahim tetap seorang manusia yang dikaruniai akal. Nabi Ibrahim pun akhirnya meyakini kebenaran mimpinya setelah mimpi itu terulang tiga kali, ini menandakan bahwa keimanan bukanlah sekedar taklid buta (ikut secara mutlak tanpa berfikir).

Tetapi keimanan haruslah dibarengi dengan ilmu yang dapat mendukung ketika akal pikiran kita mencoba untuk menelaah keimanan tersebut dari sisi ilmiah. Bagaimana relevansinya dengan fenomena terjadinya rentetan bencana yang seolah tiada henti di Indonesia? Bencana atau musibah haruslah kita yakini sebagai sebuah ketentuan atau takdir dari-Nya entah itu sebagai ujian, cobaan atau hukuman, kita sebagai seorang muslim wajib mengimaninya sebagai sebuah takdir.

Kedua kesabaran, seberapa besar sebenarnya kesabaran yang dimiliki oleh seorang manusia? Tidak ada ukuran yang pasti, sebagian berpendapat kalau sabar tidak ada batasnya namun banyak juga yang bilang kalau sabar juga ada batasnya lantas kalau ada batasnya bukannya berarti tidak sabar? Susah untuk menjawabnya memang dan gak usah berpolemik panjang karena tidak akan ada habisnya.

Tapi coba kita tengok kisah di atas, sepertinya kisah dua manusia unggul tersebut boleh kita jadikan sebuah acuan untuk mengukur derajat sebuah kesabaran dan bagaimana menyikapi sesuatu hal atau peristiwa dengan sabar. Lihatlah ketika Nabi Ibrahim akhirnya meyakini datangnya perintah Allah untuk menyembelih anaknya, bisakah kita bayangkan apa yang berkecamuk di dalam hatinya, bisakah kita bayangkan bagaimana perasaannya? Saya pribadi tidak bisa membayangkannya karena bagi seorang hamba biasa itu terlalu berat.

Lalu coba kita lihat apa yang diucapkan Ismail ketika ayahnya menyampaikan perintah tersebut “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Bisakah kita bayangkan kalau itu anak kita atau bayangkan kalau kita yang berperan sebagai Ismail. Lagi-lagi buat saya terlalu jauh untuk bisa menempatkan diri pada situasi seperti itu, terlalu jauh buat seorang hamba biasa untuk menjangkau kepatuhan dua insan yang luar biasa ini.

Halaman
1234
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved