Kampung Seraya Terbakar
Geri Pasrah Terima Hukuman
siap dengan hukuman yang akan diberikan kepadanya. Selama penyidikan di Sat Reskrim Polresta Barelang, Geri pun mengakui aksi nekatnya tersebut.
Laporan Tribunnews Batam, Dewi dan Yusuf Riadi
TRIBUNNEWSBATAM, BATAM - Geri bin Kasan, warga Singapura yang sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kebakaran puluhan rumah di Kampung Seraya, Batuampar, Batam, Selasa (22/8) mengaku siap dengan hukuman yang akan diberikan kepadanya. Selama penyidikan di Sat Reskrim Polresta Barelang, Geri pun mengakui aksi nekatnya tersebut.
"Kebakaran puluhan rumah itu akibat perbuatan saya. Tapi awalnya saya tidak bermaksud membakar rumah warga, hanya mau membakar kasut (sepatu) istri saya, Lia. Tapi Tuhan berkehendak lain. Kejadian ini musibah bagi saya, apapun hukuman yang diberikan saya terima," ujar Geri saat dijumpai Tribun, Kamis (23/8).
Sadar akan aksi nekatnya tersebut, Geri menceritakan detik-detik pertengkarannya dengan istri hingga terjadi pembakaran itu. Dua hari sebelum malam takbiran, Jumat (17/8) lalu, ia datang ke Batam atas permintaan Lia. Ia diminta datang untuk membayar zakat fitrah.
"Saya mau bayar zakat di Singapura, tapi Lia tidak mau. Katanya bayar di Batam saja dan sekalian minta maaf ke mertua laki-laki, karena mau pulang kampung ke Palembang. Setelah saya bayar zakat itu, saya masih ngasih uang 950 dolar Singapura ke mertua. Tapi mulai dari situ, saya melihat Lia sudah ada yang aneh. Hati saya sudah mulai tidak enak rasanya, sorenya saya kembali ke Singapura. Tapi Lia entah kemana perginya," ungkap Geri.
Sebelum lebaran, Lia kembali telepon dan meminta jangan menghubunginya lagi. Namun tepat pada hari lebaran, Lia tiba-tiba meneleponnya dan memintanya datang lagi ke Batam. Namun saat lebaran kapal selalu penuh hingga ia sampai di Batam sore harinya.
"Pada hari lebaran itu saya masih dijemput Lia ke Pelabuhan Batam Centre. Tidak tau apa masalahnya sampai di rumah ia pergi begitu saja meninggalkan saya. Padahal hari itu masih suasana lebaran, saya sabar-sabarkan saja. Rencananya, saya sehari saja di Batam. Tapi karena suasana dengan istri lagi tidak enak, makanya saya bertahan. Sampailah hari kejadian itu," ungkap Geri.
Selama dua hari di Batam, katanya, Lia selalu bertingkah aneh. Bahkan selalu pergi dengan baju yang seksi dan tak segera pulang. Saat itu Lia tidak pamit dengannya, meski saat itu ia lagi duduk-duduk di pangkalan ojek, tak jauh dari kampung Seraya.
"Setelah pergi, saya telfon tidak aktif HP-nya. Malamnya baru saya pergi bawa kawan-kawan ke Golden King di belakang Golden Prawn. Pulang dari situlah emosi saya tidak tahan lagi, pulang paginya langsung saya bakar sepatunya. Tapi bukan bermaksud membakar rumah," tutur Geri. Ia mengaku sudah berusaha memadamkan api. Namun api cepat membesar hingga membakar puluhan rumah tetangganya.
Hingga kemarin ia masih ditahan. Namun demikian ia juga mengaku belum dibesuk oleh Lia. Geri pun membantah jika saat itu hendak melarikan diri. Bahkan karena hendak menyerahkan diri, ia juga mengaku jadi korban penipuan karena uang dan dokumennya hilang diambil orang yang mengantarkannya ke polsek.
"Setelah banyak rumah yang terbakar, saya langsung melarikan diri ke kantor polisi. Bukan saya mau melarikan diri ke Singapura. Waktu itu saya naik tukang ojek namanya Bara, saya sempat bawa tas kecil. Tas itu isinya uang dolar, rupiah, paspor, buku nikah dan kartu kredit. Tas itu saya titip Bara saat melarikan diri ke Polsek. Sampai di Polsek, kata Bara, tas saya itu hilang. Sampai sekarang tidak ada ketemu. Sepertinya Bara itu yang ambil. Waktu di Polsek, saya lihat dalam jaketnya," ungkapnya lagi.
Bantuan susu
Kondisi warga korban kebakaran masih bertahan di posko darurat. Meski fasilitas minim, bantuan kian mengalir sehingga bisa meringankan penderitaan mereka. Bagi warga yang memiliki balita, setidaknya mereka dapat bernafas lega. Pasalnya bantuan susu formula sudah berdatangan.
Selang 10 menit dari kedatangan Walikota Batam, Ahmad Dahlan beserta rombongan, Paulus Amat Tantoso dan I Wayan Patriana, keduanya anggota di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri datang membawa sejumlah kebutuhan balita.
Selain memberikan susu SGM sebanyak 126 kotak, mereka juga menyumbangkan beberapa dus popok bayi, dan 48 kaleng susu kental. "Susu SGM syukurlah," ucap Malisa, ibu rumah tangga yang baru melahirkan anaknya 18 hari lalu.
Kedua anggota Kadin Kepri itu datang membawa nama Hai-Hai Money Changer yang dikelola Amat Tantoso.
"Ini sebagai bentuk kepedulian kami kepada korban kebakaran. Saya juga baru tahu tadi pagi dari koran, karena sebelumnya kami baru pulang dari Bali. Katanya susu formula sangat dibutuhkan, makanya tadi pagi kami langsung beli," ucap Amat Tantoso.