Suami Saya Bukan Perampok

Toke Senang Mempekerjakan TKI Ilegal

Hampir semuanya pekerja kasar di Malaysia diperlakukan tidak manusiawi.

Laporan Tribunnews Batam, Aprizal

BATAM, TRIBUN - Pesatnya pertumbuhan pembangunan di Malaysia, membawa dampak ekonomi yang baik di luar negeri jiran. Salah satunya, banyak pengusaha yang memperkerjakan buruh bangunan dari Indonesia.

Kenapa para toke atau bos-bos di Malaysia itu lebih suka memilih buruh kasar dari Indonesia. Alasannya orang Indonesia dikenal rajin, ulet dan mempunyai nyali besar dalam bekerja.

Ironisnya, ternyata lebih dari setengah jumlah yang ada, buruh kasar yang dipekerjakan itu masuk secara ilegal. Berkali-kali orang Indonesia dianiaya, disiksa, diperlakukan tak manusiawi di Malaysia.

Ini bukan cerita baru, bahkan hampir semuanya pekerja-pekerja kasar dirasakan dan dialami Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Mulai dari kuli bangunan, kuli pelabuhan, kuli rumah tangga alias babu, tukang petik kelapa sawit, tukang aspal jalan, tukang jaga bayi, tukang tebang pohon di hutan, atau penjaga ternak. Hampir tidak ada orang Indonesia yang bekerja di sektor bergengsi.

Ternyata ada cerita miris dari TKI yang diperkerjakan di berbagai bidang tersebut, toke atau bos-bos di Malaysia lebih suka memperkerjakan TKI ilegal ketimbang TKI yang resmi.

Banyak keuntungan yang bisa diperoleh toke atau bos-bos di Malaysia itu, bisa kapan pun memutus kontrak kerja sebelum kerja selesei, bisa membayar gaji dengan rendah. Parahnya lagi, banyak juga toke-toke atau bos-bos di Malaysia yang bekerja sama dengan PDRM.

Seperti yang dialami empat warga Batam yang ditembak mati oleh PDRM. Informasi yang diperoleh Tribun dari beberapa temannya di Batam, keempat korban sudah lama bekerja bangunan secara ilegal di Malaysia

"Saya yakin, keempat orang teman saya yang ditembak mati oleh PDRM itu orderan dari toke atau bos-bos di Malaysia itu. Seingat saya, keempat teman saya itu sudah hampir satu bulan bekerja bangunan, mungkin tokenya tidak mau bayar gaji.

Biasanya toke-toke itu mengatakan ke PDRM, kalau uang perusahannya dilarikan pekerjanya. Bahkan ada juga toke meminta PDRM untuk menembak langsung, karena sudah tahu sebelumnya kalau mereka masuk secara ilegal," ujar Sulaiman, mantan TKI yang pernah mengalami hal serupa, Senin (15/10/2013).

Sulaiman menceritakan, sebelumnya ia pernah kerja bangunan di Malaysia secara ilegal. Setelah lebih kurang satu bulan bekerja, katanya, toke tak kunjung membayar gajinya.

Namun sebelum gaji keluar, tambahnya, toke menyedikan tempat tinggal selama berada di Malaysia. Dalam waktu beberapa hari dipenampungan, tiba-tiba ia dan kawan-kawanya digrebek oleh PDRM.

Anehnya setelah digrebek itu, ia dan kawan-kawannya dituduh mencuri alat-alat bangunan di tempatnya bekerja itu.

"Waktu itu saya dihukum enam bulan, karena dituduh mencuri. Ternyata yang melaporkan kami mencuri alat-alat bangunan itu, ya toke-toke itu juga. Cara-cara seperti itulah dilakukannya untuk tidak mau bayar gaji. Saya sudah tidak berani lagi ke Malaysia itu, untung tidak ditembak saya saat itu. Tapi kalau lari, mungkin ditembak juga saya," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved