Sabtu, 2 Mei 2026

Pemilik Hotel Pacific Batam Meninggal

Hotel Pacifik di Batam Adalah Mahakarya Eddy Hendry

Isak tangis terdengar ketika iringan mobil keluarga Eddy Hendry tiba di Carwash Pacific, Jodoh, Batam, Rabu (19/2/2014).

Tayang:

Laporan Wartawan Tribun Batam, Rio H Batubara

BATAM, TRIBUN - Isak tangis terdengar ketika iringan mobil keluarga Eddy Hendry tiba di Carwash Pacific, Jodoh, Batam, Rabu (19/2/2014).

Carwash Pacific yang biasanya digunakan untuk rental mau pun tempat pencucian mobil ini, beralih fungsi sebagai tempat menyambut jenazah Eddy Hendry, pemilik Pacific Palace hotel di Batam.

Pihak keluarga inti yang berpakaian serba putih, diiringi peti mati almarhum memasuki area. Peti mati dibawa masuk ke ruang duka, prosesi persemayaman akan dilakukan dengan tradisi Budha.

Eddy Hendry, pengusaha kakap asal Batam ini menghembuskan nafas terakhirnya  di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura, Selasa (18/2/2018) pada pukul 11.22 waktu setempat. Kedatangan almarhum disambut ratusan pelayat yang terdiri dari pekerja hotel dan pengusaha Batam.

Dari pantauan Tribun Batam, terlihat, Asmin Patros, Komisi II DPRD bidang perekonomian, Eddy Hussy, Ketua Umum REI, dan belasan pengusaha Batam lainnya beserta petinggi TNI dan kepolisian.

Tempat persemayaman Eddy Hendry ini dirancang khusus dengan tenda putih dengan ukuran 20 x 30 meter. Ruangan ini terpisah dari tempat pelayat, di mana ruangan ini tersedia 8 AC standing floor yang siap mendinginkan area tersebut.

Sebagai penghormatan terakhir, foto almarhum diletakkan di depan peti jenazah beserta dengan kursi beserta jas almarhum. Di depannya diletakkan juga meja besar sebagai altar yang berisi dupa, lilin dan buah-buahan.

Silih berganti pelayat memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Para pelayat dipersilakan untuk melihat jenazah almarhum.

Peti mati almarhum mengunakan bahan berkualitas warna putih yang mengkilat. Dengan mudah para pelayat melihat almarhum, karena peti mati tersebut memiliki desain kaca di bagian atasnya.

Almarhum mengenakan busana jas putih yang dipadupadankan dengan dasi perak dan kemeja kotak-kotak warna ungu.

“Sesuai warna kesukaan beliau, semuanyanya kami pilih warna putih, baik dari peti mati, pakaian dan lain-lainnya. Beliau sangat identik dengan pakaian serba putih, sebagai penghormatan terakhir kami desain semuanya serba putih,” ujar Titien, perwakilan keluarga Eddy Hendry.

Titien mengatakan sejak 1,5 tahun lalu, almarhum berjuang melawan penyakitnya, namun hal tersebut tak menyurutkan semangatnya. Semangat juang tetap tinggi demi anak-anak dan istri. Beliau meninggalkan lima anak dan satu istri.

Eddy Hendry, pria kelahiran Urung Tanjung Batu, Kepri, 14 Februari 1949 lalu merupakan pengusaha yang ulet. Berasal dari keluarga biasa, ia berambisi mengubah nasib dengan bekerja sebagai awak kapal tahun 1970.

“Di sini menjadi titik balik hidup beliau, sebagai awak kapal, ia bekerja giat sehingga mampu membeli kapal ferry pertamanya,” ceritanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved