Selasa, 14 April 2026

Meresahkan Warga, Belasan Anak Punk di Tanjungpinang Ditertibkan

Mereka bernyanyi lalu meminta uang sebagai imbalannya. Bahkan tidak jarang mereka mengentuk kaca mobil seolah-olah hendak memaksa pengendara.

Laporan Tribunnews Batam, Thomm Limahekin

TRIBUNNEWSBATAM.COM, TANJUNGPINANG-‎ Kehadiran sejumlah anak punk di Tanjungpinang mulai mengganggu kenyamanan masyarakat akhir-akhir ini. Beberapa warga bahkan sudah merasa gelisah ketika berhenti di persimpangan jalan kemudian segerombolan anak punk muncul di samping kendaraan.

Mereka bernyanyi lalu meminta uang sebagai imbalannya. Bahkan tidak jarang mereka mengentuk kaca mobil seolah-olah hendak memaksa pengendara memberi uang.

Keresahan ini berunjung pada keluhan yang ditujukan kepada Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah. Sejauh ini sudah sekitar tiga pesan singkat yang masuk ke telepon seluler milik Lis. Ketiga pesan singkat itu berisikan keluhan sejumlah warga yang resah atas kehadiran anak punk di persimpangan jalan.

"Ada warga yang mulai mengeluhkan kehadiran anak punk di Tanjungpinang. Sekitar tiga keluhan sudah masuk ke Pak Wali Kota. Makanya beliau perintahkan kami untuk menertibkan anak-anak punk ini," ungkap Irianto, Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tanjungpinang, Selasa (3/2/2014) malam.

Irianto menyebutkan beberapa warga yang mengirimkan pesan singkat berisikan keluhan kepada Wali Kota. Ada warga bernama Roni, misalnya mengaku sampai risih ketika melihat sejumlah anak punk yang mendadak muncul di samping kendaraannya dan mengetukak kaca mobilnya di persimpangan lampu merah Lapangan Pamedan.

Ulah yang sama pun dibuat segerombolan anak punk yang sama kepada warga lain di simpang Batu 6.

"Memang jumlah mereka cukup banyak di Tanjungpinang. Mereka selalu saja ada di persimpangan jalan," ungkap Irianto lagi yang didampingi oleh Omrani, Kepala Bidang (Kabid) Operasional pada Satpol PP Tanjungpinang.

Dari data yang dihimpun Satpol PP, ada sekitar 18 anak punk yang berkeliaran di Tanjungpinang saat ini. Mereka baru datang dari Sulawesi, Jambi dan Kualatungkal. Mereka berencana akan melanjutkan perjalanan ke Batam setelah beberapa hari berada di Tanjungpinang.

"Kata mereka, hanya 3 hari saja ada di Tanjungpinang. Setelah itu mereka menyeberang ke Batam. Selama mereka ada di sini, yah kita tertibkan dulu. Kalau tidak mereka berkeliaran di mana-mana dan mengganggu kenyamanan warga," tambah Omrani.

Penertiban tersebut dimulai dari Batu 10, sekitar kawasan Bintan Center. Di lokasi ini, anggota Satpol PP mengamankan dua remaja yang berpenampilan layaknya para anak punk. Rambut di daerah ubun-ubun dipintal seukuran ibu jari tangan dan dibiarkan terurai hingga pundak. Sementara rambut di bagian atas kedua telinga dipotong pendek, hampai mendekati botak.

Mereka berpakaian kaos hitam dan celana jeans hitam dengan ukuran ujung celana begitu kecil. Ukuran celana seperti tersebut kemudian dipadankan dengan sepatu boat hitam.

Namun, kedua anak punk ini berusaha menyakinkan para anggota Satpol PP bahwa mereka tidak berstatus anak punk lagi. Mereka mengaku sudah bekerja sebagai tukang pangkas rambut.

"Kenapa bapak tidak mempercayai kami. Saya tidak tongkorong lagi di lampu merah. Saya sudah belajar bekerja sebagai tukang pangkas rambut. Bapak harus percaya pada kami. Saya jamin tidak akan tongkrong lagi di lampu merah," jelas anak punk yang rambutnya dipintal itu seraya menunjukkan gerak-gerik tangan seperti orang yang sedang tidak puas.

Penjelasannya itu berhasil membuat anggota Satpol PP percaya. Keduanya lalu dibiarkan pergi dengan ancaman akan ditahan jika suatu saat ditangkap lagi di persimpangan jalan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved