Senin, 13 April 2026

Ketum FBR KH Lutfi Hakim: Indonesia Jangan Seperti Eceng Gondok

Indonesia hendaknya jangan seperti enceng gondok yang ke bawah tak berakar dan ke atas tak beranting, sehingga mudah diombang-ambingkan.

IStimewa
Para Pembicara berfoto bersama seusai berbuka puasa bersama di Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI), Citra, Jakarta, Minggu (5/7/2015) 

TRIBUNNEWSBATAM.COM, JAKARTA - Bangsa Indonesia hendaknya jangan seperti enceng gondok yang ke bawah tak berakar dan ke atas tak beranting, sehingga mudah diombang-ambingkan.

Indonesia harus memelihara nilai-nilai lama, tradisi yang ada dan hendaknya tidak mengambil nilai-nilai baru begitu saja.

Oleh karena itu, dalam semangat kerukunan dan pluralisme, yang berbeda jangan disamakan, atau juga yang sama jangan dibeda-bedakan.

Dalam memerangi nilai-nilai baru yang tidak sesuai, Indonesia membutuhkan pemimpin kultural, sehingga budaya Indonesia tidak tergilas oleh nilai-nilai baru.

Demikian ditegaskan Ketua Umum Forum Betawi Rempug, KH Lutfi Hakim dalam sharing kerukunan antar umat beragama yang diselenggarakan oleh Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI), Citra Garden, Jakarta, Minggu (5/7/2015).

Hadir sebagai pembicara lain antara lain Romo Asun (Budha), Liliany Lontoh (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) KH. Tatang Firdaus (Ketua FKUB Jakarta Barat), Pendeta Taslim Pandhinata (Ketua Jaringan Gereja Sahabat Kota – JGSK).

Sharing kerukunan tersebut kemudian dilanjutkan dengan buka bersama dengan para warga.

“Kita harus berakar dalam konteks budaya sehingga kerukunan yang sudah ada karena budaya harus dipelihara dan diteruskan. Jangan sampai kita menjadi enceng gondok yang ke bawah tak berakar, ke atas tak beranting sehingga mudah mudah diombang-ambingkan. Kita harus menjaga nilai-nilai lama yang sudah mentradisi dan tidak begitu saja mengambil nilai-nilai yang baru,” ujarnya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Jakarta Barat (FKUB), KH Tatang Firdaus menegaskan bahwa kerukunan merupakan kebutuhan bersama.
Perbedaan yang ada hendaknya tidak dijadikan hambatan untuk hidup rukun dalam konteks perdamaian dan persatuan. Jika NKRI adalah harga mati, dijelaskan lebih lanjut, Tatang menandaskan, kerukunan antar warga adalah penting tidak peduli apa latar belakangnya.

“Permasalahan kerukunan ada di akar rumput bukan di tingkat pimpinan elit. Para pemuka agama bisa berkumpul bersama dengan rukun dan tanpa harus mempersoalkan hambatan. Namun di tingkat akar rumput, kerukunan menjadi masalah. Sehingga, perlu kerjasama semua pihak untuk mensosialisasi kerukunan dalam arti senyatanya hingga tingkat bawah. Dalam Islam, kerukunan sudah teruji dan dapat hidup berdampingan dan konteks kekinian kerukunan seharusnya tidak menjadi masalah. Mengapa tidak mau rukun, jika sudah dicontohkan ? ” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Jaringan Gereja Sahabat Kota (JGSK), Pendeta Taslim Pandhinata menguraikan bahwa kerukunan itu berdasarkan pada komunikasi.

Ketiadaan komunikasi dan saling mengenal akan meniadakan hidup rukun dan damai. Oleh karena itu, menghargai hanya dapat dibangun dilakukan dengan cara saling mengenal dan kemudian berkomunikasi.

Dalam penjelasannya, Pendeta Fu Kwet Khiong dari GSRI Citra, Jakarta menandaskan, menyadari sebagai bangsa pluralis yang beranekaragam adalah syarat utama pembangunan bangsa yang rukun dan damai.

Di dalam kerukunan tidak ada yang kuat ataupun yang lemah. Semuanya saling membantu, mendukung, melindungi, menguatkan dan sekaligus memelihara.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved