Dipaksa Buka Kelas 2 Shift, Keunggulan SMAN 1 & 3 Batam Tinggal Kenangan
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Batam Muslim Bidin mengaku dibuat tak perdaya soal Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.
Laporan Tribunnews Batam, Wahib Wafa
TRIBUNNEWSBATAM.COM,BATAM- Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Batam Muslim Bidin mengaku dibuat tak perdaya soal Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.
Pasalnya, praktek percaloan memasukan siswa di sekolah unggulan terus berlangsung dan tidak bisa dihindari lagi.
Bahkan Muslim Bidin mengaku, tahun ini paling parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,
Akibatnya, dua sekolah negeri unggulan di Kota Batam yakni SMAN 1 dan 3 yang daya tampungnya sekitar 260 siswa per penerimaan, kuotanya menjadi dua kali lipat.
Alhasil, anak-anakpun dipaksa belajar menjadi dua sift pagi dan sore.
"Dua sekolah unggulan dibuat hancur, SMAN 1 dan SMAN 3. Ini menjadi pengaruh buruh out put pendidikan di kota Batam," kata Muslim di Sekupang, Senin (27/7/2015).
Dia mengatakan, dari jumlah kuota yang disediakan di dua SMA itu, diperkirakan hampir 100 persen lebih dari kuota yang ada untuk menambahkan jatah bangku siswa.
"SMAN 1 hingga sampai double sift. Ini merupakan yang pertama sekolah unggulan ada dua sift. Jelas ini berbenturan dengan Perda yang sudah ada," terangnya lagi.
Muslim mengatakan fenomena itu lantaran desakan masyarakat yang luar biasa untuk memaksakan anaknya belajar di sekolah negeri, khususnya sekolah unggulan.
Hal itu, menurutnya, tidak lepas dari intervensi dari luar yang tidak dapat dibendung lagi.
"Tekanan dan intervensi dari luar, memang luar biasa. Ini membuat kita tak bisa apa-apa," katanya.
Menurutnya, banyak oknum yang sengaja memasukkan anaknya melalui calo kepada kepala sekolah.
Terlebih lagi sekolah unggulan, intervensi dari pihak luar yang memiliki kekuatan dan jabatan memaksa saudara maupun anaknya masuk ke sekolah yang dituju.
"Banyak laporan dari kepala sekolah kita yang kualahan dalam menerima siswa baru. Sekarang saya contohkan, ada orang kuat datang ke sekolah untuk mendaftarkan diri, ketika ditolak, ngamuk dia," ujarnya lagi.