Dipaksa Buka Kelas 2 Shift, Keunggulan SMAN 1 & 3 Batam Tinggal Kenangan
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Batam Muslim Bidin mengaku dibuat tak perdaya soal Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.
Ia mengaku, jika kondisi ini akan terus berjalan hingga beberapa tahun yang akan datang, dua sekolah unggulan di Batam ini hanya tinggal kenangan. Mengingat, status sekolah tersebut yang sudah tercatat di tingkat nasional sebagai sekolah dengan sistem terbaik perlahan akan hilang.
"Mereka ingin daftar ke sekolah unggulan karena jelas sudah tercatat di beberapa universitas unggulan di Indonesia sebagai sekolah memiliki kualitas hasil pendidikan terbaik. Dan banyak dari sekolah itu dapat melanjutkan ke perguruan unggulan di Indonesia," kata Muslim.
Jelas, kondisi saat ini akan berpengaruh pada dua sekolah tersebut. Sistem pembelajaran secara double sift sangat memengaruhi kondusifitas belajar mengajar.
Terlebih lagi bagi mereka sift dua, mereka harus belajar dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB.
"Pencapaian pendidikan itu dari Input yang akan memengaruhi out put-nya. Jelas kalau belajar sudah tidak kondusif karena proses awal dari input penerimaan Siswa, nantinya akan berdampak buruk pada kualitas lulusanya. Kalau ini terus berlanjut. Pasti tinggal nama saja sekolah unggulan di Batam," tambahnya.
Ia mengaku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meratakan jumlah siswa di semua sekolah. Baik itu negeri maupun swasta.
Pada PPDB kali ini, penyerapan siswa jauh dari yang diharapakan.
"Cuma sepersekian persen yang masuk ke swasta. Saya sempat tanya kepada beberapa sekolah swasta. Tahun ini mereka hanya dapat 2 siswa sampai 20 siswa untuk satu sekolah. Di luar dari sekolah Yosudarso, Modial dan Kartini. Sekolah swasta yang lain sangat minim,"urainya.
Ia menambahkan sistem penerimaan sudah diprogram sedemikian rupa agar sekolah swasta dan negeri dapat dengan rata memiliki peserta didik yang cukup.
Namun kondisi di lapangan menunjukan desakan masyarakat dengan campur tangan oknum-oknum kuat dibelakangnya.