Pengawasan Imigran Longgar, Teroris Incar Kota Batam?
Statusnya pencari suaka, kalau melihat kartu yang diberi UNHCR. Tapi kami juga masih mendalami, jangan-jangan mereka ini korban perdagangan manusia.
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Imigran dari luar negeri membanjir di Kepri, khususnya Batam. Di balik sisi kemanusiaan, kedatangan warga asing secara ilegal itu juga menyimpan kerawanan terhadap munculnya aksi-aksi radikalisme, seperti halnya gerakan ISIS, yang mutlak perlu perhatian.
Hingga saat ini di Kepri masih terdapat sejumlah kantong imigran gelap ataupun imigran terdata yang belum menentu nasib masa depannya. Keberadaan Rumah Detensi Imigrasi (Redenim) milik Kantor Imigrasi seakan tak mampu berbuat banyak menampung gelombang imigran di Kepri.
Keberadaan para pendatang gelap itu bahkan tak terpantau secara khusus. Mereka berasal dari berbagai penjuru belahan dunia, seperti Suriah, Afghanistan, Sudan, Somalia, Irak, dan lain-lainnya.
Berdasarkan pantauan Tribun, ratusan imigran yang ada di Batam terpencar setidaknya di dua tempat, yakni di sekitar Kantor Imigrasi Batam, yakni sebuah taman tak jauh dari kantor DPRD Batam dan di Hotel Kolekta, Lubukbaja.
Meski demikian, keberadaannya cenderung tak terawasi sehingga mereka tetap bebas kemana-mana dengan segala aktivitasnya.
Duduk bersantai, jalan-jalan keliling hotel dan ngobrol di lobi hotel. Seperti inilah aktifitas keseharian yang dilakukan sebanyak 178 imigran yang berasal dari Suriah, Sudan, Somalia, Yaman, Irak, dan Afganistan,yang ditampung di Hotel Kelekta Batam.
Tak ada petugas Imigrasi atau kepolisian yang mengawasinya. Bagi warga, keberadaan mereka tak ada bedanya dengan wisatawan ataupun tamu hotel.
"Mereka hanya duduk-dudk santai, jalan-jalan keliling hotel, dan ngobrol," kata Henpriadi, karyawan senior di Hotel Kolekta, kepada Tribun Batam Rabu (18/11).
Dia menjelaskan, imigran yang ditampung di Hotel Kolekta tersebut ditanggung oleh International Organization for Migration (IOM). "Semua biaya penginapan dan makanan para imigran tersebut mereka tanggung," kata Henpriadi.
Sementara pihak hotel sendiri menurut Henpriadi, tidak ada urusan dengan para imigran tersebut. Pihak hotel hanyalah sebagai penyedia kamar untuk disewakan.
"Kalau dari pihak hotel, imigran ini adalah tamu kita, yang harus kita layani," kata Henpriadi.
Meski demikian, untuk keseharian para imigran, Henpriadi menjelaskan, tidak ada yang memiliki tingkah laku aneh-aneh selama ini.
"Mereka itu biasa saja, sama seperti warga lainnya. Bagi yang muslim mereka melaksanakan salat lima waktu, setelah selesai salat para imigran tersebut kembali ke hotel. Ada yang duduk-duduk santai, ada yang jalan-jalan, dan ngobrol di lobi hotel," lanjutnya.
Dia juga mengatakan, para imigran yang ada di hotel Kelekta, kesehariannya relatif tenang tanpa ada keributan.
"Tidak ada yang aneh-anehlah. Untuk di kamar hotel para imigran itu juga tidak ada yang melakukan aksi-aksi mencurigakan lainnya," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/para-imigran-yang-terlunta-lunta-di-taman-inspirasi-batam-centre1_20151020_122012.jpg)