Pengawasan Imigran Longgar, Teroris Incar Kota Batam?

Statusnya pencari suaka, kalau melihat kartu yang diberi UNHCR. Tapi kami juga masih mendalami, jangan-jangan mereka ini korban perdagangan manusia.

TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO
Para imigran yang terlunta-lunta di Taman Inspirasi Batam Centre, Senin (19/10/2015) 

Sementara saat ditanya sampai kapan para imigran tersebut berada di hotel itu, Henpriadi mengatakan, tidak mengetahuinya.

"Mereka ini tamu kita yang di biayai oleh IOM, jadi kita tidak ada tahu menahu terhadap hal tersebut," kata Henpriadi.

Pantauan tribun di lapangan para imigran terlihat bersantai dan duduk di lobi hotel, ada juga yang jalan dan duduk-duduk de depan hotel. Keceriaan juga terlihat di wajah anak-anak mereka.

Ada yang berlari-lari di tangga dan ada juga yang bermain-main di depan hotel Kolekta. Mereka imigran yang rela lari dari negaranya demi mengadu nasib lebih aman, meskipun hal itu tetap rawan disusupi kepentingan lain.

Lain lagi nasib imigran gelap yang ada di Batam Centre. Sedikitnya 16 imigran terlunta-lunta di sebuah taman kosong tak jauh dari Kantor Imigrasi.

Tak jarang, karena merasa iba dengan penderitaan mereka, beberapa pihak sempat memberikan bantuan bagi mereka.

Bekal kartu UNHCR
Berbondong-bondongnya imigran ke Batam akhir-akhir ini cukup menyita perhatian. Bahkan diduga kedatangan mereka ada yang mengkoordinir atau masuk dalam sebuah jaringan layaknya jaringan perdagangan manusia (human trafficking).

Terkait masalah ini Kepala maupun pejabat di Imigrasi Batam belum bisa dimintai penjelasannya pada Rabu kemarin. Mereka menyatakan, pihak Kantor Wilayah Depkum HAM yang lebih berwenang memberikan penjelasan.

Namun demikian, pada sepekan lalu, pihak Imigrasi Batam bersama Walikota Batam Ahmad Dahlan sempat mendatangi tempat penampungan para imigran tersebut di Hotel Kolekta.

Saat itu belasan imigran yang terlunta-lunta di Batam Centre dievakuasi dijadikan satu ke Hotel Kolekta. Selepas itu, imigran gelap lainnya datang lagi ke Batam Centre.

Rafli Kabid Wasdakim Imigrasi Batam mengatakan, 178 imigran yang ada di hotel itu datang dari berbagai negara, seperti Sudan, Irak, Afghanistan, Suriah, Pakistan, Mesir, Somalia, Yaman.

Berbekal kartu identitas yang dikeluarkan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), mereka meminta untuk bisa ditampung di hotel tersebut. Biaya ditanggung sepenuhnya oleh IOM.

Rafli menyatakan saat ini, pihak imigrasi masih mendalami status sebenarnya dari para imigran tersebut. Rafli berpendapat, ratusan imigran itu patut diduga adalah korban penyelundupan manusia.

"Statusnya pencari suaka, kalau melihat kartu yang diberi UNHCR. Tapi kami juga masih mendalami, jangan-jangan mereka ini korban perdagangan manusia. Faktanya, mereka sampai ke sini pun membayar dengan uang hingga 10 ribu dolar. Mereka masuk lewat pelabuhan tikus. Jadi ada indikasi seperti itu," kata Rafli.

Selain hal itu, indikasi lainnya semakin banyak imigran yang sengaja diletakkan di Batam akhir-akhir ini. Setiap kali pihaknya menjemput imigran yang terlihat di jalanan, satu jam kemudian akan muncul lagi imigran lainnya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved