Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Journalism

MEMAKNAI KEPAHLAWAN SUHARTO SECARA BERKEADABAN

Presiden Indonesia kedua Alm. Suharto sudah masuk ke dalam daftar tunggu untuk mendapatkan gelar kemormatan sebagai pahlawan nasional.

Tayang:
internet
Presiden ke-2 Indonesia Soeharto 

Oleh : Taufiqqurrachman,S.Sos,M.Soc.Sc, Dosen Komunikasi UMRAH

Presiden Indonesia kedua Alm. Suharto sudah masuk ke dalam daftar tunggu untuk mendapatkan gelar kemormatan sebagai pahlawan nasional.

Munculnya nama mantan kepala negara di era orde baru ini telah memantik kontroversi di masyarakat yang ditandai oleh munculnya dua kubu,yang setuju dan sebaliknya, tidak setuju.

Melalui artikel ini, penulis ingin mengingatkan bahwa pemberian gelar merupakan warisan sejarah dan budaya bangsa yang beradab karena mengandung nilai-nilai yang mulia.

Nilai itu untuk menghormati dan menghargai seseorang yang telah mempersembahkan jasanya untuk generasi penerusnya.

Karena itu, sebagai sebuah warisan yang penuh keadaban tentu mesti dilakukan dengan cara-cara yang berkeadaban pula, supaya nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya diberikan kepada orang yang tepat.

Penulis tidak mau secara latah memilih masuk ke dalam salah satu kubu tanpa didasari oleh kejelasan persfektif.

Merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Sedangkan nasional adalah kata sifat yang memberikan karakter kebangsaan kepada kepahlawanan seseorang.

Maka, pahlawan nasional sangat tepat dialamatkan kepada seseorang yang mampu melepaskan keegoan pribadinya, kelompoknya, kesukuannya dan lain sebagainya sehingga mampu melakukan tindakan-tindakan kepahlawanan demi kepentingan bangsa/negaranya, bukan demi kepentingan individu, golongan atau partai politik yang mengusungnya menjadi politisi.

Kemudian perlu dipahami bahwa tindakan kepahlawan bukan sebuah fenomena yang muncul begitu saja.

Tiada angin, tiada hujan tiba-tiba muncul dengan aksi kepahlawananya yang terekam oleh arsip-arsip sejarah atau ternarasikan secara oral oleh para saksi sejarah.

Menurut Mead, empunya teori interaksi simbolik yang populer dalam kajian komunikasi, tindakan terartikulasikan karena adanya daya yang disebut dengan motif dalam diri seseorang.

Lalu pertanyaannya motif apakah yang dapat melahirkan tindakan kepahlawanan?

Jawabannya tiada lain adalah nasionalisme.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved