Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Journalism

MEMAKNAI KEPAHLAWAN SUHARTO SECARA BERKEADABAN

Presiden Indonesia kedua Alm. Suharto sudah masuk ke dalam daftar tunggu untuk mendapatkan gelar kemormatan sebagai pahlawan nasional.

Tayang:
internet
Presiden ke-2 Indonesia Soeharto 

Secara sederhana, nasionalisme dapat diartikan sebagai paham yang mengedepankan kecintahaan kepada bangsanya, menomorduakan yang lainnya.

Rasa cinta kepada bangsa ini lah yang berperan sebagai pusat daya, bak tombol power, apabila ditekan mampu mengalirkan energi positif ke otak, kemudian dialirkan lagi keseluruh organ-organ tubuh untuk menopang geraktindak.

Out put-nya lahirlah karya-karya besar yang didharmabaktikan demi kemerdekaan, kesehajteraan dan kemajuan bangsa dan negara.

Uraian panjang diatas selaras dengan apa yang digariskan dalam Pasal 1 Poin 4 UU No 20 Tahun 2009, yaitu:

“Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan Negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsanya dan Negara Republik Indonesia”.

Kategori terkahir dari gelar pahlawan nasional sebagaimana yang dijabarkan pada pasal tersebut di atas memunculkan perkataan “luar biasa”.

Hal ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah level (tingkatan) pencapaian.

Implikasi dari tafsiran tersebut, seorang pahlawan nasional disyaratkan tidak hanya memiliki bukti-bukti sejarah yang sahih atas tindakan-tindakan kepahlawanannya yang diarahkan untuk kemjauan bangsa dan negara, tetapi tindakan tersebut menuntut adanya kemanfaatan yang besar (luar biasa) bagi kemajuan bangsa dan negara.

Kita sepakat bahwa tindakan-tindakan kepahlawanan luar biasa hanya dapat dilakukan oleh individu-individu yang paripurna.

Dan kaparipurnaan dimaksud ditopang oleh keseimbangan yang dinamis antara nasionalisme (wawasan kebangsaan) dan kompetensi yang unggul.

Sekalipun demikian kita tidak boleh lupa sehebat-hebatnya sang pahlawan, ia tetap seorang manusia yang senantiasa melekat di dalam dirinya karakter-karakter negatif.

Menurut Indra W (2014) dalam kajiannya terhadap al Qur’an, sifat dasar negatif dalam diri manusia, diantaranya pelupa (Q.S Az-Zumar : 8 ), mudah terperdaya (Q.S Al-Infithar : 6), lalai (Q.S At-takaatsur 1) dan lain sebagainya.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW kurang lebih 14 abad silam telah mengingatkan bahwa terdapat segumpal daging dalam tubuh manusia yang berperan kontrol (pengendali) diri, yaitu kolbu.

Dalam segumpal daging itulah dua potensi negatif dan positif selalu berkonflik dalam memproses perilaku.

Dalam terminologi Al-Qur’an dua potensi dimaksud adalah fujur dan takwa (lihat Al-Qur’an Surah Asy-Syam Ayat 7-10).

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved